BREAKING NEWS

Cari Blog Ini

KOMPLEKS MAKAM ABDULLAH DAN MAS WONGSO KETURUNAN BARISAN SENTOT ODCB KOTA PAYAKUMBUH

Segera setelah Perang Doponegoro berakhir, Belanda   mulai mengirim kembali pasukannya ke Sumatra Barat. Pada tahun 1831 dengan menggunakan ...

What's Hot

Latest Updates

Rabu, 28 September 2022

KOMPLEKS MAKAM ABDULLAH DAN MAS WONGSO KETURUNAN BARISAN SENTOT ODCB KOTA PAYAKUMBUH

Segera setelah Perang Doponegoro berakhir, Belanda  mulai mengirim kembali pasukannya ke Sumatra Barat. Pada tahun 1831 dengan menggunakan dua kapal perang, datang sebanyak 283 serdadu dari Batavia. Tentara yang datang ini dipimpin oleh Kolonel Elout yang kemudian diangkat menjadi Resident van Padang en Onderhoorigheden. Dengan kedatangan pasukan bantuan tersebut jumlah tentara yang ada di Sumara Barat saat itu adalah sebanyak 26 perwira dan 707 prajurit. Seiring dengan itu, kekuatan Belanda juga semakin besar. Meningkatnya jumlah tentara Belanda ini antara lain disebabkan oleh datangnya ‘Barisan Sentot’. Nama kesatuan ini berasal dari nama mantan perwira perang Pangeran Diponegoro yang berkianat kepada tuannya dan kemudian menyatakan kesetiaan kepada Belanda. Dengan beberapa kapal, Barisan Sentot yang tiba di Sumatra Barat pertengahan tahun 1832. (Boelhouwer, 1841)

Barisan Sentot memiliki struktur kepangkatan tersendiri (yang bisa disetarakan dengan ranking kepangkatan tentara Belanda regular). Posisi paling tinggi dinamakan Panembahan. Pangkat selanjutnya adalah Pangeran (Mayor), Raden Temenggung (Kapten), Temenggung Tua (Letnan Satu), Temenggung Muda (Letnan Dua), Panji (Sersan, Ngabehi (Kopral), dan prajurit. Di samping itu, dalam Barisan Sentot ini juga ada posisi yang bertugas sebagai penabuh tambur, peniup terompet.

Di samping aktif dalam kampanye-kampanye militer di daerah pedalaman, Sebagian Barisan Sentot juga dipergilirkan untuk menjaga kota Padang. Di samping anak kemenakan para penghulu antipadri, Belanda juga menjadikan para pemuda (lelaki) Batak sebagai Hulp-Benden.  Tentara Belanda adalah ‘manusia’ juga. Di samping memiliki ‘etos juang’ yang tinggi untuk menaklukan musuh (kaum Padri) ternyata ada juga di antara mereka yang ‘lemah’. ‘Lemah’ yang dimaksud di sini antara lain menyerah kepada kaum Padri, terpesona oleh ideologi Padri, dan bekerja sama dengan kaum Padri. (Boelhouwer, 1841)

Prof Hamka (Buya Hamka) dalam bukunya berjudul Dari Perbendaharaan Lama menuliskan, Belanda mengakui kedudukan Sentot sebagai panglima perang. Tidak diganggu gelar Basya dan Senopati milik Sentot.. Setelah ia menyerah, Belanda memberikan konpensasi untuk Sentot, yaitu diberikan harta dan diperlakukan sebagaimana layaknya pangeran-pangeran Jawa yang berdaulat. Namun, Belanda tidak menunaikan janjinya untuk memberikan Sentot kekuasaan wilayah. Padahal, Sentot dan pengikutnya membutuhkan wilayah kekuasaan untuk menanamkan dan menyebarluaskan ajaran Islam. Pasukan Sentot terdiri atas 1.800 orang yang terlatih dengan baik. Sentot khawatir jika semangat perjuangan pengikutnya menjadi kendor. Mereka adalah santri yang kuat beribadah. Semuanya memakai surban dan jubah putih. Pada saat yang sama, Perang Paderi berkecamuk di Minangkabau, Sumatra. Di sinilah Belanda kembali memainkan strategi devide et impera-nya atau memecah belah. Belanda memfitnah Pasukan Paderi pimpinan Tuanku Imam Bonjol dengan sebutan sebagai kaum yang menganut paham yang sesat dan merusak Islam. Dikatakan kepada Sentot bahwa Belanda memerangi kaum Paderi itu untuk melindungi kaum Islam yang cinta damai di bawah sultannya di Pagaruyung. (Hafil, 2020)

Belanda menjanjikan kepada Sentot, kalau mau ikut memerangi kaum Paderi itu, ia akan diberikan satu daerah yang luas dan menjadi wilayah kekuasaannya. Daerah yang dijanjikan adalah suatu wilayah di Minangkabau, yaitu di daerah bernama XIII Koto. Adapun pangkat yang kelak akan diberikan setingkat Mangkunegoro di Pulau Jawa. Sentot pun menerima tawaran itu. Namun, Gubernur Jenderal Belanda di Batavia mengirim surat rahasia kepada residen militer dan sipil di Padang supaya dijaga, jangan sampai ada hubungan kaum Paderi dengan Sentot. Sentor dengan pasukannya berangkat ke Minangkabau pada 1832, yaitu tiga tahun setelah dia menyerah kepada Belanda. Sesampainya di Tanah Minangkabau, dia terlibat perang sampai ke Matur, ke Lima Puluh Kota, bahkan sampai ke Air Bangis. Namun, suatu ketika dalam sebuah peperangan, dia sangat terkejut. Sebab, dia mendengar adzan di medan perang, bahkan lebih lantang daripada suara tentaranya sendiri. (Hafil, 2020)

Sebagai tanda terima kasih atas jasanya membantu Belanda berperang melawan Diponegoro, Alibasya Prawirodirjo alias Sentot, bersama keluarga dan para pengikutnya (seluruhnya lebih dari 1.500 jiwa), dikirim oleh Gubernur Jenderal/Komisaris Jenderal J. Van den Bosch ke Sumatra Barat tahun 1832. Kepadanya dijanjikan bahwa sesampai di sana ia akan diangkat sebagai raja kecil dengan keraton dan pasukan sendiri. Akan tetapi sebelumnya ia harus membantu Belanda dalam Perang Pidari yang telah 10 tahun berkecamuk di Minangkabau. Tujuan lain Van den Bosch mengirim Sentot jauh dari Pulau Jawa agar lebih aman jika anak muda berpengalaman perang dan pemberani, dengan para pengikut yang setia dikucilkan di tempat yang jauh. (Amran, 1997)

Sentot Alibasyah Prawirodirdjo di Minangkabau, dia terkenal sebagai anak emas Van den Bosch. Secara resmi, Barisan Sentot baru dibubarkan bulan Januari 1834. Bagian terbesar dari pasukannya dipecah, dilebur ke dalam kesatuan-kesatuan tentara Hindia Belanda. Mereka tidak diizinkan menjadi satu kesatuan lagi. Para perwiranya yang bergelar pangeran diangkat menjadi mayor, seperti Suryobronto, cucu Sultan Yogya dan yang bergelar raden temenggung diangkat menjadi kapten, umpamanya Prawirodipuro, Notoprawiro, dan Prawirokusumo, sedangkan yang temenggung diangkat menjadi letnan satu, seperti Prawirosudiro dan Sosroatmojo. Akan tetapi, ada juga yang diangkat menjadi letnan dua, seperti Kartowongso dan Prawirodilogo, malah ada yang juga hanya sersan, seperti Joyosentono. Mereka ini meneruskan perjuangan membantu Belanda melawan Pidari. Semuanya berjumlah sekitar 600 orang masuk tentara Hindia Belanda. (Hafil, 2020)

Dokumentasi Pemutakhiran tahun 2021

Sebagian lagi dilepas dari dinas ketentaraan. Mereka mendapat tunjangan yang cukup selama mereka belum mendapat pekerjaan yang tetap. Mereka boleh menetap di Sumatra, boleh juga kembali ke Jawa atas ongkos pemerintah. Adanya tentara yang lemah atau membelot ini juga diakui oleh pemerintah Hindia Belanda. Walaupun diduga tidak jujur dengan jumlah jumlah yang disajikan, sebuah laporan menyebut bahwa pada tahun 1825 ada sebanyak 31 tentara yang dikategorikan desersi dan tahun 1826 ada sebanyak 5 tentara yang disersi (salah satu alasan pengkategorian disersi di sini adalah membelot ke pihak musuh). Ketika perang usai, sebagian besar tentara Belanda (khususnya Eropa dan Hulp-Tropen) dipindahkan ke daerah lain. Namun, ada juga yang tetap tinggal di daerah ini, terutama yang pro-padri. Salah satu di antaranya adalah bagian dari Barisan Sentot serta tentara India. Karena mereka lelaki tentu, untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, mereka menikah dengan wanita daerah ini dan kemudian memiliki anak cucu mereka. Karena itu, seperti yang pernah diungkapkan budayawan A.A. Navis, sebagian kecil orang Minang dewasa ini adalah keturunan Hulp-Tropen Belanda yang pro-padri itu. (Asnan, 2021)

Ada pula yang diberi uang pensiun besar, tetapi harus bermukim terus di Sumatra. Umpamanya di Padang seperti halnya Raden Temenggung Mangundipuro (bapak Kapten Prawirodipuro) atau Raden Temenggung Purwonegoro (mertua kapten yang sama). Kedua raden temenggung ini mendapat tunjangan tidak kurang dari 174 gulden sebulan. Jumlah yang tidak sedikit untuk waktu itu. Seorang lagi Temenggung Ponconegoro, entah apa sebabnya ia harus diam di Tapanuli dengan uang pensiun 65 gulden sebulan.  Sebagian lagi (kurang lebih 40 jiwa bersama keluarga) diberi tanah di dekat Padang untuk bertani. Selama satu tahun hidup mereka dijamin oleh pemerintah. (Amran, 1997)

Satu lagi yang juga menarik ialah kedudukan yang baik diberikan pemerintah kepada keturunan bekas Barisan Sentot ini. Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa pada saat jatuhnya Hindia Belanda karena Perang Pasifik, banyak sekali dari mereka memegang jabatan penting di Sumatra Barat. Waktu itu mereka sudah lama berintegrasi dengan penduduk setempat. Seperti telah dikatakan, bukan saja nama-nama, melainkan bahasa ibu mereka pun sudah lama tidak dipakai dan terlupakan. Diantara mereka ada yang keturunan langsung Sentot Alibasya (saudara, kemanakan, atau sepupunya). (Amran, 1997)

Tentu banyak pula yang memilih tinggal di Minangkabau karena terpikat gadis-gadis Minang yang terkenal cantik dan istri yang baik. Sejak generasi kedua, perkawinan ini banyak dijalankan dan anak-anak serta keturunan mereka benar-benar sudah menjadi orang Minang. Nama dan bahasa Jawa mereka pun kemudian menjadi hilang. Sedangkan ada sebagian tentara sentot yang pro Padri dan menikahi penduduk setempat itu dari kalangan karebat dekat sentot itu sendiri. Abdullah atau yang lebih dikenal dengan Mas Wongso, merupakan salah satu kerabat dekat dari Sentot Prawirodirjo. Diperkirakan Mas Wongso datang ke Sumatera se-zaman dengan kedatangan rombongan pasukan Sentot Prawirodirdjo. Abdullah (Mas Wongso) menetap dan tinggal di Sumatera Barat dan meninggal pada tahun 1889 M. Sekarang salah seorang keturunannya Bapak Ashar Syarif (generasi ke-7) menjadi pengurus dari makam beliau. (Syarif, 2018)

Abdullah atau yang lebih dikenal dengan Mas Wongso, merupakan salah satu kerabat dekat dari Sentot Prawirodirjo. Diperkirakan Mas Wongso datang ke Sumatera se-zaman dengan kedatangan rombongan pasukan Sentot Prawirodirdjo. Abdullah (Mas Wongso) menetap dan tinggal di Sumatera Barat dan meninggal pada tahun 1889 M. Sekarang salah seorang keturunannya Bapak Ashar Syarif (generasi ke-7) menjadi pengurus dari makam beliau. (Syarif, 2018)

Pada kompleks makam ini terdapat puluhan makam yang semuanya masih dalam satu keluarga besar Mas Wongso beserta keturunannya. Makam tertua di kompleks ini adalah makam Mas wongso yang meninggal pada tahun 1889 M. Makam berukuran 1,9 m x 0,9 m yang berada dalam areal seluas 15 m x 20 m. Bentuk makam sangat sederhana, yaitu berupa gundukan tanah yang di beri jirat bata tanpa spesi dengan dua undakan. (Syarif, 2018)

Nisan terbuat dari batu alam (pipih) yang bentuknya menyerupai menhir. Tinggi nisan sebelah selatan adalah 1,70 m, dan selatan 1 m. Tata letak makam satu dengan lainnya tidak diatur sedemikian rupa sehingga terlihat acak dan tidak rapi. Makam Abdullah (Mas Wongso) mempunyai orientasi menyerong arah utara. Menuju lokasi dapat menggunakan kendaraan roda dua melewati jalan gang di belakang bekas bangunan pengadilan lama kota Payakumbuh dengan Letak Astronomis -0.2228333, 100.6295555 (Syarif, 2018)

Namun, yang paling menarik ialah setelah pangkat kepala laras diganti dengan demang, banyak dari mereka memegang jabatan tertinggi untuk pribumi ini, misalnya Wongsosentono (Abdullah) jadi demang antara lain di Pariaman. Sebelum itu, sebagai mantri kopi, dia berpindah-pindah tempat di Kabupaten Lima Puluh Kota. Kartowongso (Ibrahim) menjadi demang di Ulakan, Painan, dan Talamau, setelah sebelumnya menjadi mantri kopi di daerah-daerah rawan, seperti Solok dan Alahan Panjang. Dia anak Wongsodirjo (Solihin) yang juga bekerja si perkopian sejak dari Halaban hingga Padang Panjang. Sorang lagi bernama Wirioharjo (Rusman), ipar Kartowongso, pernah menjadi mantri kopi di Payakumbuh, Tanjung, Bukitsileh, Lubukgadang, dan lain-lain tempat sebelum diangkat menjadi Demang Batang Hari dan Rao. (Amran, 1997)

Siapa tidak kenal nama Wirado Prawirodirjo. sebagai mantri kopi klas 1, dia tewas dibunuh rakyat selama Pemberontakan Pajak tahun 1908 (di Kamang) atau nama-nama termasyur waktu itu, seperti Prawirodimejo (Karah), Poncoduria (Wahab), Wongsoprawiro (Ahmad), dan Wongsosasmito. Tolong Datuk Basa (anak Joyokarsono) malah pernah menjadi kepala laras di Lubuk Sikaping. Ada pula yang menjadi guru di Batusangkar, seperti Wiriojoyo. (Amran, 1997)

Daftar Pustaka

Amran, R. (1997). Cerita-Cerita Lama dalam Lembaran Sejarah. Jakarta: Balai Pustaka.

Asnan, G. (2021, Mei 18). sejarahsumatera.com. Retrieved September 2021, 2021, from sejarahsumatera.com: https://sejarahsumatra.com/2021/05/18/kekuatan-tentara-belanda-selama-perang-padri/

Boelhouwer, J. (1841). Herinneringen van mijn verblijf op Sumatra's Westkust gedurende de jaren 1831-1834. s-Gravenhage: De Erven Doorman.

Hafil, M. (2020, April 20). republika.co.id. Retrieved September 2021, 2022, from republika.co.id/berita: https://www.republika.co.id/berita/q9kodu430/buya-hamka-saat-sentot-ali-basya-insaf-perangi-kaum-paderi

Syarif, M. (2018). Data Pemutakhiran Cagar Budaya Kota Payakumbuh. Batusangkar: BPCB Sumatera Barat.

 

 

Selasa, 01 Desember 2020

Silek Staralak, Kapalo Hilalang Padang Pariaman



Kota Van Der Capellen Tidak Melintas Rel Kereta Api

Menjelang akhir Abad 19 terjadi perubahan signifikan di Sumatera Tengah. Perubahan tersebut itu awal dari Politik Etis yang berlaku di Hindia Belanda dan berakhinya periode perang antara Hindia Belanda dengan Sumatera Tengah. Penguasaan penuh Hindia Belanda oleh pemerintahan Hindia Belanda membuat pintu masuk di Sumatera Tengah terbuka lebar. Salah satunya adalah sistem transportasi.

Pada awalnya, rencana pembangunan rel kereta api di Sumbar digunakan untuk distribusi kopi dari daerah pedalaman (Bukittinggi, Payakumbuh, Tanah Datar, Pasaman) ke Pusat perdagangan di Kota Padang. Ide ini muncul saat pemerintahan kolonial Belanda sudah mulai kokoh di Sumbar. Hal ini terlihat setelah penandatangani Plakat Panjang tahun 1833.( Rusli Amran, 1985 : 11-15) Akan tetapi, rencana ini berubah semenjak ditemukannya batu bara di daerah Ombilin. Pemerintah Hindia Belanda tertarik untuk melakukan penambangan dan pengangkutan batu bara karena kualitasnya tinggi dan jumlahnya cukup banyak.(lihat Arsip Perumka Ekspoloitasi Sumatera Barat Mengenai Sejarah Perkeretaapian). Sejak penemuan pertambangan batu bara di Sawahlunto dan tambang emas di Mangani Lima Puluh Kota, dilakukan pembangunan dan pengadaan kereta api sebagai fasilitas pendukung pendistribusian hasil tambang ke Pelabuhan Teluk Bayur.

Penelitian pembuatan jalan kereta api ini selesai pada tahun 1876, dan ditetapkan pembuatannya dengan dana sebesar f.19.400.000,-. Rencana pembuatannya dimulai dari Pulo Aie lewat Kayutanam, Lembah Anai, Padang Panjang terus ke Sawahlunto melalui Danau Singkarak. Namun rencana pembuatan jalan kereta api dari Pulo Aie hingga Sawahlunto tertunda sampai tanggal 6 Juli 1887, sedangkan lintas Bukittinggi–Payakumbuh diselesaikan tahun 1896, dilanjutkan sampai Limbanang yang diselesaikan tahun 1921. Dalam kurun waktu 22 tahun dapat diselesaikan pembangunan jalur kereta api sepanjang 230 km. Jalur lintas Lubuk AlungPariaman selesai pada tahun 1908, PariamanNaras selesai pada Januari 1911, dan jalur dari Padang, Bukitinggi, PayakumbuhLimbanang sepanjang 72 km. Sedangkan jalur MuarakalabanMuarasijunjung selesai pada tahun 1924.

Sumatera Barat sedang menuju modernisasi sistem transportasi. Pada tahun 1892 peresmian jalur kereta api dari Kota Sawahlunto sampai ke Pelabuhan Emma Haven atau Teluk bayur. tentunya dipergunakan untuk mengangkut batu bara. Terhitung selama hampir setengah abad sampai akhir masa kekuasaan Hindia Belanda, Jalur kereta api telah mencapai daerah-daerah penting di Sumatera Barat masa kolonial, sebut saja Padang, Pariaman, Padangpanjang, Solok, Sawahlunto, Bukittinggi, Payakumbuh dilalui rel kereta api.

Namun, ada satu daerah yang tidak kalah pentingnya oleh Hindia Belanda yakni Van der Capellen atau Kota Van der Capellen . Kurang penting apa kota yang satu ini. Kota dimana Pusat kerajaan Pagaruyung berada. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda Fort Van der Capellen  dinamai dengan nama Fort Vander Capellen. Nama diambil dari nama seorang jenderal Belanda yaitu Godert Alexander Gerard Philip baron Van der Capellen Kota ini menjadi salah satu kota penting bagi Belanda, Fort Vander Capellen mempunyai peran ganda yaitu menjadi ibu kota Afdelling dan ibu kota District. Sebagai ibu kota Afdeling Tanah Datar Vander Capellen menjadi pusat pemerintahan sipil tempat pemerintahan kolonial mengatur birokrasi pemerintahan pribumi sekaligus mengawasi pelaksanaan sistem tanam paksa kopi Sebagai kota yang penting bagi kolonial, maka didirkanlah benteng yang kuat dan kokoh untuk pertahanan. (Merry Kurnia). Kurang penting apa Kota Van der Capellen  ini?

Sejak kemunculan kota -kota di Sumatera Barat, daerah ini sudah menjadi medan pertempuran dalam peran paderi. Dinamika setelah perang paderi, kota ini juga menunjukan aktivitas perlawanan terhadap Hindia Belanda dalam perang Belasting di Lintau Buo.

 

Peta Rancangan Jalur Kereta api menuju Fort Van Der Capellen

 

Jejak kereta api di Kota Van der Capellen  hanya ditemui dalam dokumen Belanda tentang pembangunan jalur baru kereta api pada tahun 1902. Secara terselubung, jalur kereta api yang dibangun oleh Hindia Belanda di Sumatera Barat merupakan sel aktif untuk mengontrol pergerakan masyarakat lokal. Terlepas itu untuk pengangukutan batu bara dari kota Sawahlunto ke Pelabuhan Teluk Bayur, kereta api juga dipergunakan untuk angkutan massa baik itu sipil termasuk pejabat teras Belanda, Militer Belanda, serta orang-orang yang dicap penjahat oleh Belanda.

Catatan mengenai pembangunan jalur kereta api ke kota Van der Capellen dapat ditemui dalam dokumen Belanda "Staatsspoorweg ter Sumatra's Westkust en Ombilin Kolenvelden" De Ingenieur. 17e Jaargang Nomor 34 tahun 1902. Dalam tulisan ini diterangkan bahwa Jalur kereta api baru di Fort Van der Capellen ini menawarkan keuntungan besar baik dengan panjang sekitar 25 KM medan yang harus dilalui yang landai dan fakta bahwa wilayah padat penduduk, makmur dengan ibukota Van der Capellen dengan adanya jalur kereta api. Sedangkan untuk jarak tentunya agak jauh karena harus dilewati ketinggian +890 M. harus dilampaui. Rencana untuk membuka jalur kereta api ini sering dengan penjualan batu bara memalui Singapura lebih menguntungkan dari pada di Emma Haven. Selain itu, keuntungan besar ini harus diiringi dengan pembukaan tambang baru. Daerah yang lebih memungkinkan yakni di sepanjang daerah aliran batang Ombilin dan daerah Rantiah.

Sebuah rencana untuk meningkat produksi penambangan batu bata mencapai 365.000 ton dengan membuka lahan baru diarah batang omblin. Rencana itu akan tercapai dalam waktu sekitar delapan tahun. Jika rencana ini dilaksanakan, maka penjualan batubara tidak lagi di Emma Haven sebagai daerah tempat ekspor reguler. Akan tetapi dalam perdagangan terbuka di tempat lain, mungkin dijual secara eksklusif di Singapura. Masih dalam catatan Belanda ini, perdagangan batu bara tidak hanya dibawah pengawasan Kepala penambangan, membuka peluang untuk perusahan swasta. Penambangan batu bata akan deserahkan kepada sawasta sedangkan Pemerintah Hindia Belanda melakukan manajemen kereta api sebagai sarana pengangkutan. Gagasan ini dilakukan karena permintaan batu bara dari Jepang sedang masif sehingga pasar Singapura harus menjadi tujuan dari Pemerintah Hinda Belanda.

Oleh karena itu jalur kereta api. Begitulah sedikit deskripsi tentang rencana jalur kereta api yang dirancang oleh Hindia Belanda pada saat membuat jalur kereta api dari ranti, Tanjung Barulak/Buo, Fort Van der Capellen terus ke Padang panjang melalui celah bukit di Simabur. Di Usulan juga jalur kereta api yang ada harus dibuat yang mengikuti sungai Sello ke Fort Van der Capellen dan dari sana melewati jalan utara Boekit Pandjang ke Padang Pandjang.

Masih dalam sumber yang sama diterangkan bahwa dari Desa rantiah, kota Sawahlunto ke kota Van der Capellen  biaya konstruksi dan peralatan pembuatan jalur kereta api dari desa Rantiah kota Sawahlunto ke Fort Van der Capellen sampai ke Padangpanjang memakan biaya 3.490.000 gulden dengan perkiran ada 2 stasiun dan 2 stopplaat. Dari Kota Sawahlunto dengan 1 stasiun dan 1 stopplaat. Jarak desa Rantiah ke Kota Sawahlunto sepanjang 29 KM memakan biaya 1.740.000gulden, dan untuk 2 stoplat masing jarak 6 km 300.000 gulden dan jarah 4 km biaya 400.000 Gulden dan jarak dari Fort Van der Capellen sepanjang 14 km sebanyak 1.050.000 gulden serta ditambah dengan Penambahan stasiun Kereta api padang panjang dengan biaya 100.000 gulden, penggandaan rel kereta api di Lembah Anai dengan biaya 750.000 gulden, perluasan instalasi di Emma Haven dengan biaya 250.000 gulden, serta pembuatan instalasi dan persiapan pertambangan di desa Rantih dengan biaya 1.000.000 gulden sehingga total biaya yang diperlukan oleh Hindia Belanda sebanyak 5.608.000 gulden.

 

Titik terang menjawab persoalan tentang keberadaan jalur kereta api ke Fort Van der Capellen disebabkan oleh beberapa faktor yakni secara hitungan ekomonis, daerah ini tidak begitu menjanjikan daripada daerah lain. Fort Van der Capellen dipergunakan untuk mengangkut hasil tambang yang akan di buka di daerah Rantiah, Sawahlunto. Perkebunan kopi yang berada di lereng gunung merapi dan Gunung Sago tidak mendapatkan hasil yang melimpah. Pada sisi lain, pada awal abad ke 20, pemerintah Hindia Belanda disibukkan untuk menata pemerintahan serta ditambahlah yang paling pokok biaya yang dikeluarkan oleh Belanda, pada masa ini sudah tergolong besar dibanding dengan perkiraan pemasakam. Pada akhirnya jalur kereta api ke Kota Van der Capellen  hanyalah sampai pada kertas kerja.