BREAKING NEWS

Cari Blog Ini

Senin, 21 Agustus 2017

KESAMAAN NAMA TEMPAT : POLA ARAH MIGRASI MINANGKABAU*

Wilayah Minangkabau sering disebut juga dengan Alam Minangkabau. Alam Minangkabau meliputi luhak asli dan rantau. Luhak asli terdiri atas Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Kota. Setiap luhak mempunyai daerah rantau yang bersebelahan. Luhak Agam memiliki rantau Pasaman di sebelah utaranya, Luhak Tanah Datar memiliki rantau Solok arah selatan, dan Luhak Lima Puluh Kota memiliki rantau Kampar arah timur (Naim, 1984:14). Sebelumnya, Kato (1982:37) juga mengemukakan hal yang sama dengan  keterangan di atas untuk batas-batas wilayah alam Minangkabau di Provinsi Sumatera Barat.

Setelah diamati, ternyata beberapa nama tempat yang ada di Alam Minangkabau memiliki kesamaan, baik yang terdapat di daerah luhak yang sama, maupun antara luhak yang satu dengan luhak yang lain, ataupun antara luhak dan daerah rantau. Untuk membuktikan sejauh mana hubungan yang ada antara tempat yang satu dengan tempat yang lain, yang memiliki kesamaan nama tersebut, perlu dilakukan penelitian. Hubungan tersebut dapat diteliti dari berbagai aspek, antara lain: pakaian adat, bentuk rumah, makanan, benda-benda seni, tarian, sistem kekerabatan, upacara adat, logat, istilah, nama suku, nama penghulu, dan gelar adat.

Pada kesempatan ini penelitian difokuskan pada 3 aspek, yakni: sistem kekerabatan, nama suku, dan kata sapaan. Dalam perkembangan budaya, jika terjadi suatu perubahan, ketiga aspek ini merupakan bentuk yang paling bertahan. Meskipun ada perubahan, perubahan itu tidak akan terjadi secara drastis. Dalam kenyataannya, jika terjadi migrasi penduduk, biasanya ketiga unsur ini juga akan ikut terbawa walaupun tidak secara utuh. Itulah sebabnya ketiga aspek ini menarik untuk diteliti.
Penelitian yang melihat hubungan antara satu tempat dengan tempat lain yang memiliki nama yang sama untuk melihat arah migrasi melalui sistem kekerabatan, nama suku, dan kata sapaan belum pernah dilakukan. Memang sudah ada beberapa penelitian yang berhubungan dengan sistem kekerabatan yang pernah dilakukan, tetapi penelitian tersebut hanya membahas sistem kekerabatan dari sudut pandang antropologi dan sosiologi, seperti yang dilakukan oleh Kato (1982). Penelitian yang berhubungan dengan kata sapaan juga pernah dilakukan, antara lain oleh Kasih (2000), tetapi penelitian tersebut belum melihat hubungannya dengan kesamaan nama tempat, seperti yang dilakukan ini. Penelitian yang mencoba menelusuri daerah asal dan arah orang Minangkabau di Provinsi Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Utara berdasarkan kajian variasi dialektal juga telah dilakukan oleh Nadra dkk. (2006). Penelitian ini  merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu yang mencoba menelusuri daerah asal dan arah migrasi penuturnya, tetapi dengan metode dan aspek yang berbeda. Lagi pula, penelitian tentang sistem kekerabatan, nama suku, ataupun kata sapaan pada daerah yang diteliti ini juga belum pernah dilakukan sebelumnya.
Penelitian ini dibatasi pada nama tempat yang memiliki nama yang sama, yaitu Rao-rao yang terdapat di daerah luhak dan daerah rantau. Untuk daerah luhak, nama Rao-rao ditemukan di daerah Luhak Tanah Datar. Sesuai dengan pernyataan Kato (1982) dan Naim (1984) bahwa Luhak Tanah Datar memiliki rantau, yakni Rantau Solok. Di daerah Solok ini, tepatnya di Kabupaten Solok Selatan, juga ditemukan nama tempat Rao-rao. Selain itu, di daerah rantau Agam tepatnya di Kabupaten Pasaman Barat juga terdapat nama tempat Rao-rao. Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara ketiga nama tempat tersebut dilakukan kajian atas ketiga aspek yang telah disebutkan di atas. Melalui ketiga aspek itu dapat dibuktikan apakah nama tempat yang terdapat di daerah rantau itu merupakan daerah migrasi dari daerah luhak atau bukan.
*Diambil dari Artikel Ilmiah Prof. Dr. Nadra, M.S. dan Dra. Sri Wahyuni, M.Ed. (2010) Kajian Arah Migrasi Berdasarkan Kesamaan Nama Tempat Di Minangkabau

Posting Komentar