BREAKING NEWS

Cari Blog Ini

Selasa, 01 Desember 2020



Menjelang akhir Abad 19 terjadi perubahan signifikan di Sumatera Tengah. Perubahan tersebut itu awal dari Politik Etis yang berlaku di Hindia Belanda dan berakhinya periode perang antara Hindia Belanda dengan Sumatera Tengah. Penguasaan penuh Hindia Belanda oleh pemerintahan Hindia Belanda membuat pintu masuk di Sumatera Tengah terbuka lebar. Salah satunya adalah sistem transportasi.

Pada awalnya, rencana pembangunan rel kereta api di Sumbar digunakan untuk distribusi kopi dari daerah pedalaman (Bukittinggi, Payakumbuh, Tanah Datar, Pasaman) ke Pusat perdagangan di Kota Padang. Ide ini muncul saat pemerintahan kolonial Belanda sudah mulai kokoh di Sumbar. Hal ini terlihat setelah penandatangani Plakat Panjang tahun 1833.( Rusli Amran, 1985 : 11-15) Akan tetapi, rencana ini berubah semenjak ditemukannya batu bara di daerah Ombilin. Pemerintah Hindia Belanda tertarik untuk melakukan penambangan dan pengangkutan batu bara karena kualitasnya tinggi dan jumlahnya cukup banyak.(lihat Arsip Perumka Ekspoloitasi Sumatera Barat Mengenai Sejarah Perkeretaapian). Sejak penemuan pertambangan batu bara di Sawahlunto dan tambang emas di Mangani Lima Puluh Kota, dilakukan pembangunan dan pengadaan kereta api sebagai fasilitas pendukung pendistribusian hasil tambang ke Pelabuhan Teluk Bayur.

Penelitian pembuatan jalan kereta api ini selesai pada tahun 1876, dan ditetapkan pembuatannya dengan dana sebesar f.19.400.000,-. Rencana pembuatannya dimulai dari Pulo Aie lewat Kayutanam, Lembah Anai, Padang Panjang terus ke Sawahlunto melalui Danau Singkarak. Namun rencana pembuatan jalan kereta api dari Pulo Aie hingga Sawahlunto tertunda sampai tanggal 6 Juli 1887, sedangkan lintas Bukittinggi–Payakumbuh diselesaikan tahun 1896, dilanjutkan sampai Limbanang yang diselesaikan tahun 1921. Dalam kurun waktu 22 tahun dapat diselesaikan pembangunan jalur kereta api sepanjang 230 km. Jalur lintas Lubuk AlungPariaman selesai pada tahun 1908, PariamanNaras selesai pada Januari 1911, dan jalur dari Padang, Bukitinggi, PayakumbuhLimbanang sepanjang 72 km. Sedangkan jalur MuarakalabanMuarasijunjung selesai pada tahun 1924.

Sumatera Barat sedang menuju modernisasi sistem transportasi. Pada tahun 1892 peresmian jalur kereta api dari Kota Sawahlunto sampai ke Pelabuhan Emma Haven atau Teluk bayur. tentunya dipergunakan untuk mengangkut batu bara. Terhitung selama hampir setengah abad sampai akhir masa kekuasaan Hindia Belanda, Jalur kereta api telah mencapai daerah-daerah penting di Sumatera Barat masa kolonial, sebut saja Padang, Pariaman, Padangpanjang, Solok, Sawahlunto, Bukittinggi, Payakumbuh dilalui rel kereta api.

Namun, ada satu daerah yang tidak kalah pentingnya oleh Hindia Belanda yakni Van der Capellen atau Kota Van der Capellen . Kurang penting apa kota yang satu ini. Kota dimana Pusat kerajaan Pagaruyung berada. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda Fort Van der Capellen  dinamai dengan nama Fort Vander Capellen. Nama diambil dari nama seorang jenderal Belanda yaitu Godert Alexander Gerard Philip baron Van der Capellen Kota ini menjadi salah satu kota penting bagi Belanda, Fort Vander Capellen mempunyai peran ganda yaitu menjadi ibu kota Afdelling dan ibu kota District. Sebagai ibu kota Afdeling Tanah Datar Vander Capellen menjadi pusat pemerintahan sipil tempat pemerintahan kolonial mengatur birokrasi pemerintahan pribumi sekaligus mengawasi pelaksanaan sistem tanam paksa kopi Sebagai kota yang penting bagi kolonial, maka didirkanlah benteng yang kuat dan kokoh untuk pertahanan. (Merry Kurnia). Kurang penting apa Kota Van der Capellen  ini?

Sejak kemunculan kota -kota di Sumatera Barat, daerah ini sudah menjadi medan pertempuran dalam peran paderi. Dinamika setelah perang paderi, kota ini juga menunjukan aktivitas perlawanan terhadap Hindia Belanda dalam perang Belasting di Lintau Buo.

 

Peta Rancangan Jalur Kereta api menuju Fort Van Der Capellen

 

Jejak kereta api di Kota Van der Capellen  hanya ditemui dalam dokumen Belanda tentang pembangunan jalur baru kereta api pada tahun 1902. Secara terselubung, jalur kereta api yang dibangun oleh Hindia Belanda di Sumatera Barat merupakan sel aktif untuk mengontrol pergerakan masyarakat lokal. Terlepas itu untuk pengangukutan batu bara dari kota Sawahlunto ke Pelabuhan Teluk Bayur, kereta api juga dipergunakan untuk angkutan massa baik itu sipil termasuk pejabat teras Belanda, Militer Belanda, serta orang-orang yang dicap penjahat oleh Belanda.

Catatan mengenai pembangunan jalur kereta api ke kota Van der Capellen dapat ditemui dalam dokumen Belanda "Staatsspoorweg ter Sumatra's Westkust en Ombilin Kolenvelden" De Ingenieur. 17e Jaargang Nomor 34 tahun 1902. Dalam tulisan ini diterangkan bahwa Jalur kereta api baru di Fort Van der Capellen ini menawarkan keuntungan besar baik dengan panjang sekitar 25 KM medan yang harus dilalui yang landai dan fakta bahwa wilayah padat penduduk, makmur dengan ibukota Van der Capellen dengan adanya jalur kereta api. Sedangkan untuk jarak tentunya agak jauh karena harus dilewati ketinggian +890 M. harus dilampaui. Rencana untuk membuka jalur kereta api ini sering dengan penjualan batu bara memalui Singapura lebih menguntungkan dari pada di Emma Haven. Selain itu, keuntungan besar ini harus diiringi dengan pembukaan tambang baru. Daerah yang lebih memungkinkan yakni di sepanjang daerah aliran batang Ombilin dan daerah Rantiah.

Sebuah rencana untuk meningkat produksi penambangan batu bata mencapai 365.000 ton dengan membuka lahan baru diarah batang omblin. Rencana itu akan tercapai dalam waktu sekitar delapan tahun. Jika rencana ini dilaksanakan, maka penjualan batubara tidak lagi di Emma Haven sebagai daerah tempat ekspor reguler. Akan tetapi dalam perdagangan terbuka di tempat lain, mungkin dijual secara eksklusif di Singapura. Masih dalam catatan Belanda ini, perdagangan batu bara tidak hanya dibawah pengawasan Kepala penambangan, membuka peluang untuk perusahan swasta. Penambangan batu bata akan deserahkan kepada sawasta sedangkan Pemerintah Hindia Belanda melakukan manajemen kereta api sebagai sarana pengangkutan. Gagasan ini dilakukan karena permintaan batu bara dari Jepang sedang masif sehingga pasar Singapura harus menjadi tujuan dari Pemerintah Hinda Belanda.

Oleh karena itu jalur kereta api. Begitulah sedikit deskripsi tentang rencana jalur kereta api yang dirancang oleh Hindia Belanda pada saat membuat jalur kereta api dari ranti, Tanjung Barulak/Buo, Fort Van der Capellen terus ke Padang panjang melalui celah bukit di Simabur. Di Usulan juga jalur kereta api yang ada harus dibuat yang mengikuti sungai Sello ke Fort Van der Capellen dan dari sana melewati jalan utara Boekit Pandjang ke Padang Pandjang.

Masih dalam sumber yang sama diterangkan bahwa dari Desa rantiah, kota Sawahlunto ke kota Van der Capellen  biaya konstruksi dan peralatan pembuatan jalur kereta api dari desa Rantiah kota Sawahlunto ke Fort Van der Capellen sampai ke Padangpanjang memakan biaya 3.490.000 gulden dengan perkiran ada 2 stasiun dan 2 stopplaat. Dari Kota Sawahlunto dengan 1 stasiun dan 1 stopplaat. Jarak desa Rantiah ke Kota Sawahlunto sepanjang 29 KM memakan biaya 1.740.000gulden, dan untuk 2 stoplat masing jarak 6 km 300.000 gulden dan jarah 4 km biaya 400.000 Gulden dan jarak dari Fort Van der Capellen sepanjang 14 km sebanyak 1.050.000 gulden serta ditambah dengan Penambahan stasiun Kereta api padang panjang dengan biaya 100.000 gulden, penggandaan rel kereta api di Lembah Anai dengan biaya 750.000 gulden, perluasan instalasi di Emma Haven dengan biaya 250.000 gulden, serta pembuatan instalasi dan persiapan pertambangan di desa Rantih dengan biaya 1.000.000 gulden sehingga total biaya yang diperlukan oleh Hindia Belanda sebanyak 5.608.000 gulden.

 

Titik terang menjawab persoalan tentang keberadaan jalur kereta api ke Fort Van der Capellen disebabkan oleh beberapa faktor yakni secara hitungan ekomonis, daerah ini tidak begitu menjanjikan daripada daerah lain. Fort Van der Capellen dipergunakan untuk mengangkut hasil tambang yang akan di buka di daerah Rantiah, Sawahlunto. Perkebunan kopi yang berada di lereng gunung merapi dan Gunung Sago tidak mendapatkan hasil yang melimpah. Pada sisi lain, pada awal abad ke 20, pemerintah Hindia Belanda disibukkan untuk menata pemerintahan serta ditambahlah yang paling pokok biaya yang dikeluarkan oleh Belanda, pada masa ini sudah tergolong besar dibanding dengan perkiraan pemasakam. Pada akhirnya jalur kereta api ke Kota Van der Capellen  hanyalah sampai pada kertas kerja.

 

Kamis, 03 September 2020

Benteng Pulau Cingkuak berada di pulau cingkuak nagari Painan Kecamatan IV Jurai Kabupaten pesisir selatan. Secara astronomis berada pada posisi 01021’10,7 LS dan  100033’32,8 BT. Pulau Cingkuak merupakan Bandar dagang berskala internasional sebagai perwakilan dagang VOC. Pulau Cingkuak adalah sebuah pulau kecil di Teluk Painan. Dalam banyak literatur sejarah Pulau Cingkuak memiliki nama lain yaitu Chinco, Poulo Chinco, Poulo Chinko (Dalam bahasa Portugis) Poeloe Tjinko, Poelau Tjingkoek, Pulu Tjinkuk (Dalam bahasa Belanda). Pulau ini pada zaman VOC menjadi lalu lintas perdaganan di Pantai Barat Sumatra yang dilansir dari vocsite.nl. Benteng ini dibangun Pada tahun 1669 sebagai Gudang. Dikutip dari atlasofmutualheritage.nl/nl/Chinco, Thomas Van Kempen, kepala dari Pantai Barat Sumatra. Dia yang menjadi pemegang buku Zacharias Bastensz Dia mengendalikan perdagangan dan dia dianggat juga sebagai Panglima yang mengendalikan Padang. dan menjabat sebagai pertukaran untuk lada. Di samping hunian Residen ada gudang untuk lada dan pakaian.

Lada diekspor dari Poulo Chinco dalam penamaan Portugis ke India oleh VOC. Pulau Cingkuak juga rumah bagi hamba–hamba dan penjaga rumah untuk tentara. Bahkan juga terdapat kebun kebun anggur. Pantai Barat Sumatra adalah pemasok utama lada. VOC didirikan sebuah pos perdagangan, tetapi kedatangan bangsa Eropa menyebabkan ketegangan dengan penduduk. sebagaimana yang dituliskan di dalam situs ww.vocsite.nl. Saat ini, Secara administratif Pulau Cingkuak berada di Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Pulau Tjinko dalam nama Belanda adalah sebuah pulau kecil di pintu masuk teluk kecil Painan. Pulau Cingkuak berada di kira–kira 1 km dari panai Cerocok Painan, Pesisir Selatan Sumaera Barat. Dari kota Padang ditempuh selama 2 jam atau lebih kurang 77 km.

VOC membangun benteng pertahanan di bukit batu di tengah–tengah Pulau yang dikelilingi oleh Tiang kayu. Pada tahun 1679 gudang batu adalah peti dibangun dan batu dinding 5 meter dan tinggi setebal 75 cm. Ada dua gerbang: di utara dan di sisi selatan, pulau ini sangat tidak sehat yang menyebabkan kematian yang tinggi antara pendudukan. Pulau Cingkuak benar–benar harus menjadi cabang utama VOC di Pantai Barat Sumatra, tetapi perusahaan akhirnya disukai Padang jauh lebih sehat. Cabang–cabang VOC di Pantai Barat Sumatra yang menyerah kepada sejumlah kapal dari East India Company selama perang Anglo–Inggris keempat (1780–1784), tetapi mereka dikembalikan ke Belanda setelah penandatanganan perdamaian. Hal yang sama terjadi pada tahun 1795–‎‎1816 Belanda kembali 1818 kembali di pulau dan dibangun kembali pos perdagangan. Pentingnya pulau semakin dibayangi oleh Padang. Reruntuhan di pulau yang saat ini merupakan daya tarik wisata penting. Tanda–tanda yang salah lagi sisa–sisa benteng Portugis dituliskan oleh atlasofmutualheritage.nl.Peninggalan-peninggalan arkeologi yang terdapat di dalam Pulau Cingkuk yaitu sisa-sisa benteng yang yang tidak utuh hanya berupa tembok pagar sebelah timur, pintu utama di bagian barat, dan dermaga di sebelah timur. Selain itu juga terdapat nisan makam dari bahan batu marmer bertuliskan bahasa Portugis dan sebuah lubang (sumuran).
Peta Pulau dan Benteng Pulau Cingkuk

Sisa-sisa tembok yang relatif masih utuh berada di sebelah timur membujur ke arah utara-selatan. Tembok sisi utara berukuran panjang 27 meter, tinggi 2,5 meter, tebal 1meter. Sedangkan pada sisi kiri (selatan) berukuran panjang 9,9 meter, tinggi 2,5 meter, dan tebal 1 meter. Pintu utama di sebelah timur berukuran lebar 3,25 meter. Tembok yang lain umumnya sudah banyak yang runtuh. Tembok-tembok tersebut sebagian besar tersusun dari batuan andesit. Pada bagian sisi selatan dan barat tidak ada bekas-bekas tembok.

Pada sebelah barat terdapat sebuah pintu gerbang yang relatif masih utuh. Pintu ini terbuat dari bata merah. Lubang pintu gerbang ini melengkukng di bagian atas, mempunyai ukuran lebar 1,58 meter, tinggi lengkung 2,8 meter, dan tebal 43cm . Pintu ini dihubungkan dengan tembok pagar keliling, tetapi yang dapat terlacak hanya sepanjang 3,8 meter.
Nisan makam berada di sisi sebelah barat dekat pitu gerbang. Nisan makam tersebut terbuat dari bahan batu marmer putih, berukuran panjang 162 cm, lebar 85 cm, tinggi 45 cm, membujur kearah utara. Pada bagian atas tengah terdapat lambang Bangsa Portugis (?). Di bawah lambang ini terdapat tulisan huruf latin berbahasa Portugis .
Pada sebelah timur keberadaan nisan marmer ini kira-kira 50 meter terdapat bekas lubang yang sudah terbuka. Berdasarkan sisa-sisanya, lubang tersebut pada bagian atas ditutup dengan bata merah yang disusun secara melengkung ke atas. Lubang tersebut berukuran panjang 1,8 meter, lebar 50 cm, dan kedalaman lubang 78 cm.


Rabu, 19 Agustus 2020


Batusangkar, Kota ini menjadi salah satu kota penting bagi Belanda, Fort Vander Capellen  mempunyai peran ganda yaitu menjadi  ibu kota Afdelling dan ibu kota District. Sebagai ibu kota Afdeling  Tanah Datar Vander Capellen menjadi pusat pemerintahan sipil tempat pemerintahan kolonial mengatur birokrasi pemerintahan pribumi sekaligus mengawasi pelaksanaan sistem tanam paksa kopi. Sebagai kota yang penting bagi kolonial, maka didirkanlah benteng yang kuat dan kokoh untuk pertahanan. Pendirian benteng ini turut serta didirikannya bangunan bangunan pendukung. Berikut ini beberapa bangunan yang dibuat pada masa kolonial Belanda.
Kota Batusangkar pada Masa Kolonial Belanda dikenal dengan Van Der Capellen.  Penamaan Kota Batusangkar dengan nama Benteng Van Der Capellen dari nama Mr. Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen penguasa Hindia Belanda pertama yang memerintah di Hindia setelah dikuasai oleh Kerajaan Inggris selama beberapa tahun. Van der Capellen, memerintah antara tanggal 19 Agustus 1816 – 1 Januari 1826. Ia merupakan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-41.



Benteng van der Capellen dibangun Belanda di Batusangkar pada tahun 1822. Benteng didirikan di atas dataran yang cukup tinggi dan dibangun atas perintah Kolonel Raff. Awalnya benteng hanya berupa kumpulan bambu dan kayu yang di dalamnya ditegakkan bangsal-bangsal yang juga dari bambu. Kemudian di dalam benteng juga dibangun tangsi tentara dan gudang perbekalan. Belanda kemudian membangun kompleks bangunan yang cukup kokoh di dalam benteng. Kompleks bangunan mulai didirikan di dalam benteng.

Benteng Van der Capellen merupakan salah satu tinggalan benda cagar budaya tidak bergerak di Kabupaten Tanah Datar. Situs dan bangunan benteng tersebut memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Keberadaan benteng Van der Capellen tidak dapat dilepaskan dengan peristiwa peperangan antara Kaum Adat melawan Kaum Agama yang terjadi pada sekitar tahun 1821 karena adanya pertentangan. Kaum Agama yang dipelopori oleh tiga orang Haji yang baru kembali dari Mekah ingin melakukan pemurnian ajaran Agama Islam. Hal ini karena pada masyarakat Minangkabau di Tanah Datar telah badak banyak melakukan praktek budaya sehari-hari yang sangat bertentangan dengan ajaran Agama Islam, misalnya adu ayam, berjudi, minuman keras, dan sebagainya. Namun gerakan pemurnian ajaran Agama Islam ternyata tidak berjalan mulus dan memperoleh tantangan dari Kaum Adat. Dalam kondisi demikian, pertentangan antara Kaum Adat dan Kaum Agama semakin meruncing dan konflik terbuka di antara keduanya tidak dapat dihindarkan lagi.
Konflik terbuka yang berupa peperangan fisik antara Kaum Adat dan Kaum Agama akhirnya dimenangkan oleh Kaum Agama. Para pemuka Kaum Adat melihat kenyataan demikian tidak tinggal dia. Kaum Adat kemudian minta bantuan Belanda yang pada waktu itu sudah berkedudukan di Padang. Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kolonel Raff masuk ke Tanah Datar untuk memerangi Kaum Agama atas permintaan Kaum Adat.
Sesampai di Batusangkar, pasukan Belanda dipusatkan di suatu tempat yang memiliki ketinggian paling tinggi di daerah pusat kota, lebih kurang 500 meter dari pusat kota. Pada tempat ketinggian inilah pasukan Belanda kemudian membangun sebuah bangunan benteng yang permanen. Bangunan benteng pertahanan yang dibangun pada tahun 1822 berupa bangunan gedung yang memiliki ketebalan dinding ± 75 cm dan beratap genteng. Pada sekeliling bangunan ± 4 meter dari dinding bangunan diberi parit dan tanggul pertahanan melingkar mengelilingi bangunan. Bangunan inilah yang kemudian diberi nama Benteng Van der Capellen, sesuai dengan nama Gubernur Jenderal Belanda pada waktu itu.
Dengan adanya benteng pertahanan yang permanen dan strategis maka secara militer dan politis memudahkan Belanda untuk menguasai wilayah sekitar Batusangkar. Kesempatan demikian akhirnya bukan hanya bertujuan untuk memadamkan gerakan Kaum Agama, tetapi sekaligus untuk menguasai secara politis kawasan Tanah Datar dan seki-tarnya. Konflik terbuka yang semula hanya merupakan konflik antara Kaum Adat dan Kaum Agama akhirnya berkembang menjadi Operasi Militer Belanda. Kenyataan demi-kian akhirnya menyadarkan Kaum adat yang semula sengaja “mengundang” pihak Belanda. Pada akhirnya Kaum Adat dan Kaum Agama bersatu melawan Belanda dan kemudian pecah Perang Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.
Keberadaan Belanda di Batusangkar sampai pada saat meletusnya Perang Dunia II. Setelah selesai Perang Dunia II dengan kekalahan Belanda dari Jepang akhirnya Belanda meninggalkan Batusangkar. Benteng Van der Capellen kemudian dikuasai oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) dari tahun 1943 – 1945. Setelah itu Benteng Van der Capellen dikuasai oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sampai tahun 1947. Pada waktu Agresi Belanda II, Benteng Van der Capellen kembali dikuasai Belanda lagi selama dua tahun, berlangsung pada tahun 1948 – 1950.
Setelah Belanda meninggalkan Batusangkar, Benteng Van der Capellen kemudian dimanfaatkan oleh PTPG yang merupakan cikal bakal IKIP Negeri Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) untuk proses belajar-mengajar yang saat itu dresmikan oleh Prof. M. Yamin, S.H. Pemakaian bangunan benteng untuk PTPG berlangsung sampai tahun 1955.  Pada tahun itu pula PTPG dipindah ke Bukit Gombak. Benteng Van der Capellen kemudian dijadikan sebagai markas Angkatan Perang Republik Indonesia.
Pada saat meletus peristiwa PRRI tahun 1957, Benteng Van der Capellen dikuasai oleh Batalion 439 Diponegoro yang kemudian diserahkan kepada Polri pada tanggal 25 Mei 1960. Oleh Polri kemudian ditetapkan sebagai markas Komando Resort Kepolisian (Polres) Tanah Datar dan berlanjut hingga tahun 2000. Sejak tahun 2001, Benteng Van der Capellen dikosongkan karena Polres Tanah Datar telah pindah ke bangunan kantor yang baru yang berada di Pagarruyung, sekitar 500 meter di sebelah utara Kantor Suaka PSP Sumbar dan Riau.
Bagian atap yang semula berupa atap genteng diganti dengan atap seng pada tahun 1974. Bangunan ST yang ada di dalam lingkungan benteng dibongkar dan dibangun bangunan Kantor Satlantas Polres Tanah Datar yag sampai sekarang masih dipakai.
Pada tahun 1984 dilakukan penambahan ruangan untuk Serse dan dibangun pula bangunan TK Pertiwi. Parit yang masih ada di sebelah kanan dan kiri bangunan benteng ditimbun dan diratakan pada tahun 1986. Selain itu, ruangan sel tahanan yang semula terdiri dari 4 ruangan, dibongkar satu sehingga tinggal menjadi 3 ruangan. Perubahan bangunan terakhir kalinya terjadi pada tahun 1988, yaitu berupa penambahan bangunan kantin Bhayangkari dan bangunan untuk gudang.
Kondisi Lingkungan Situs
Situs benteng Van der Capellen berada pada sudut timurlaut kawasan perkotaan Batusangkar. Keberadaannya pada lokasi yang relatif lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Luas situs benteng Van der Capellen jika dihitung berdasarkan batas kenampakan geografis berupa batas ketingggian kontur  paling atas  0,5 ha. Jalan masuk ke lokasi situs dari arah barat. Bangunan benteng Van der Capellen menghadap ke utara dan menempati sisi selatan lahan situs. Pada sisi utara sudut baratlaut terdapat bangunan baru yang sampai sekarang masih berfungsi sebagai Kantor Satlantas Kabupaten Tanah Datar dan pada sudut timurlaut terdapat bangunan Kantor Kwartir Cabang Pramuka Kabupaten Tanah Datar. Pada sisi sebelah timur bangunan Kantor Kwartir Cabang Pramuka terdapat bangunan menara tower Telkom yang didirikan pada tahun pertengahan tahun 2001.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan di lapangan, benteng Van der Capellen yang dibangun pada tahun 1822 sampai saat sekarang sudah mengalami berbagai perubahan bangunan dan lingkungan. Parit dan tanggul keliling yang berada di depan bangunan ditimbun dan didatarkan untuk halaman pada tahun 1961. Bangunan pos penjagaan ditambahkan di bagian depan bangunan dan menempel di dinding bangunan induk. Pada tahun 1969 mengalami perubahan lagi dengan penambahan bangunan ruang penjagaan di halaman sebelah kanan. Parit dan tanggul di bagian belakang ditimbun dan diratakan untuk bangunan asrama.
Pada dataran kontur kedua dari atas terdapat beberapa bangunan perkantoran, Asrama Kodim,dan bangunan perumahan penduduk. Sebelah utara terdapat bangunan Kantor Perkebunan, Pengadilan Negeri, PPM, dan Legiun Veteran RI, dan tiga buah bangunan perumahan penduduk. Sebelah timur terdapat bangunan Kantor Kelurahan dan bangunan Asrama Kartika. Sebelah selatan terdapat bangunan Kodim Tanah Datar dan bangunan Asrama Kartika. Sebelah barat terdapat bangunan Sekolah TK dan Kantor Dinas LLAJR Tanah Datar.
Riwayat Pelestarian
Bangunan benteng Van der Capllen pernah diperbaiki oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sumatera Barat pada tahun 1992. Perbaikan yang pernah dilakukan meliputi :
  • penggantian tiang-tiang beranda bangunan II dan III
  • penggantian balok penyangga (blandar) atap beranda
  • perbaikan daun jendela bangunan II dan III
  • perbaikan dinding tembok bangunan II dan III.
  • Pembersihan lingkungan situs terkait dengan pemeliharaan terhadap bangunan atau situs. Sehubungan dengan hal tersebut, BP3 Batusangkar mengadakan pembersihan situs terhadap lingkungan Benteng Van der Capellen di Kota Batusangkar yang dilakukan pada tanggal 22 s.d. 29 Mei 2006
  • pemugaran tahun 2009

Minggu, 09 Agustus 2020

Secara administrasi benteng (fort) De Kock berada di Jalan Benteng Kelurahan Pasar Atas Kecamatan Guguk Panjang, , Kota Bukitinggi. situs ini memiliki ukuran 38 x 38 meter. Pendirian Benteng ini dilakukan pada tahun 1830 dengan maksud untuk pertahanan tentara Belanda dari perlawanan rakyat yang dimotori oleh Tuanku Imam Bonjol. Pemili-han areal yang berbukit kemung-kinan didasarkan pada letaknya yang paling tinggi dibandingkan daerah-daerah sekitarnya. Benteng ini juga merupakan tanda awal dari pertumbuhan daerah ini menjadi kota. Di lokasi ini secara fisik bangunan bentengnya sudah tidak ada lagi yang tinggal hanya berupa bangunan bak penampungan air dengan denah persegi empat.


Areal bekas benteng dibatasi oleh parit yang melingkar sedalam1 m dan lebar sekitar 3 m. Salah satu tinggalan yang masih ada hubungannya dengan bangunan benteng adalah delapan buah meriam dari besi yang dipasang di seKeliling areal bekas benteng. Salah satu meriam tersebut terdapat inskripsi yang menunjukkan angka tahun 1813 dengan panjang antara 116 – 280 cm.

Kamis, 06 Agustus 2020


Mentawai salah satu  Kepulauan terluar di pantai barat Sumatera mulai memiliki posisi penting sejak lama. Selama bertahun-tahun sebelum perdagangan ini ada antara masyarakat adat dan daratan Sumatera, Cina dan Melayu. Pola dan perdagangan antara masyarakat di  Kepulauan Induk,  Kepulauan Sumatera telah terjalin sejak mulai abad ke 16. Catatan bangsa Eropa terkait dengan interaksi masyarakat di  Kepulauan Mentawai terdokumentasi oleh perjalanan Inggris tahun 1792. John Crisp yang mendarat di  Kepulauan-Kepulauan pada tahun 1792, telah tiba pada pertengahan 1700 di perjalanan orang Inggris yang membuat upaya gagal dan untuk mendirikan sebuah pemukiman pertanian lada di sebuah  Kepulauan selatan Pagai Selatan.
Belum ada teori yang disetujui bersama mengenai asal-usul nenek moyang orang Mentawai Hal ini disebabkan karena ada begitu banyak versi cerita yang menjelaskan hadirnya pendatang pertama di wilayah ke Kepulauanan itu.  Selain itu, tidak tersedianya sumber peninggalan arkeologis dan literatur-literatur yang memungkinkan penelusuran sejarah nenek moyang suku Mentawai menjadi semakin sulit. Juniator dalam desertasinya mencoba mengumpulkan beragam kisah tersebut. la menggolongkan kisah-kisah berdasarkan periode waktu: tahun 1842 lalu 1930. Seperti yang ditulis para ahli antara tahun 1842 hingga 1930, yang menjelaskan penduduk asli Mentawai adalah orang Melayu yang datang dari wilayah sumatera (padang).  Kisah-kisah yang diceritakan tentang hak cipta dengan laporan-laporan tertulis yang diperlihatkan pada talyun 1900-1991.Sumber-sumber ini memberikan informasi mengenai pendatang kemudian ke Kepulauanan nias yang bemama Aman Tawe (lihat Kornelius Glossanto, 2019:38) Nama ini berasal dari bahasa Nias yang berarti 'Ayah Tawe'. Seiring pergeseran waktu pembacaan Ametawe menjadi Mentawe dan pada akhirnya dikenal sebagi Mentawai.
Di samping kapal-kapal dagang (membawa orang dan barang), sejak dekade kedua abad ke-20 juga berdatangan ke Indonesia kapal-kapal penangkap ikan Jepang. Jumlahnya ada ratusan setiap tahun. Warga Jepang lainnya yang juga datang ke Indonesia adalah kaum terpelajar dan turis. Kedatangan kaum cendekia Jepang bukan untuk menuntut ilmu, tetapi untuk mempelajari berbagai aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik, serta lingkungan alam Indonesia. Kedatangan wisatawan Jepang tentu saja untuk menikmati pesona alam Nusantara. Dibandingkan dengan kelompok masyarakat kebanyakan dan zaibatsu, jumlah cendekiawan dan wisatawan yang datang relatif sedikit. Namun, walaupun sedikit, pengaruh mereka cukup besar, apalagi bila dilihat dari perspektif politis. Kaum cendekiawan khususnya, mampu mengetahui banyak potensi sosial, budaya, ekonomi, dan politik Indonesia, dan sampai taraf tertentu mampu menghadirkan pandangan tersendiri dari orang Indonesia terhadap Jepang.
Sementara penandatanganan kontrol Sumatera dan Semenanjung Malaya, Belanda kembali pada tahun 1864 untuk mengklaim ke Kepulauanan Mentawai di bawah kedaulatan Hindia Timur posisi dipertahankan sampai Perang Dunia Kedua. Dari sekian banyak perubahan yang dialami oleh orang-orang dari Siberut selama periode ini dan dekade berikutnya – terutama pembentukan koloni pemaksaan di Muara Siberut dan kedatangan dan aturan kekerasan otoritas Jepang selama periode Perang Dunia Kedua.(lihat sukumentawai.org) Namun yang pasti, pada masa perang dunia ke II,  Kepulauan Mentawai memiliki arti penting bagi Jepang sehingga sampai saat ini, peninggalan arkelogi yang dapat ditelurusi yakini peninggalan tradisional dan peninggalan Jepang berupa Pillbok atau bungker-bungker pertahanan.
Pada sisi tinggalan arkeologis di Kepulauan Mentawai berupa Bunker jepang yang tersebar di tepi pantai di pulau-pulau di Mentawai menunjukkan betapa pentingnya Mentawai pada masa Perang dunia ke II. Setidaknya yang baru ditemukan ada 13 bunker Jepang tersebar di kepulauan Mentawai. Di Muara Siberut Pillbox ini Berada di kaki bukit langsung mengarah ke laut selat Mentawai.
Selain Pesona  Kepulauan mentawai dengan keragaman hayati, kekhasan budaya yang dan tradisi yang masih berlanjut sampai sekarang. Mentawai sudah dijadikan daerah penting dalam percaturan dunia di abad ke 20.  Identifikasi bunker-bungker jepang di kepulauan mentawai ada beberapa kesimpulan bahwa antara lain kepulauan mentawai di jadikan sebagai lokasi pertahanan terdepan oleh pendudukan jepang dalam mengantisipasi serangn sekutu daru Samudera Hindia. secara arah hadap, pillbok ini juga memiliki beberapa kareakter seperti untuk pengintaian. biasanya bunker untuk pengintaian terletak di atas bukit seperti Lubang Jepang berada tepat diatas bukit pastoran meghadap ke sungai dan laut selat mentawai. bungker untuk penyerangan secara langsung seperti beberapa pillbok yang menghadap ke laut dan posisi yang diincar oleh Jepang yakni selat-selat yang berkemungkinan dilalau Kapal-kapal sekutu di Muara Siberut Pillbox ini Berada di kaki bukit langsung mengarah ke laut selat mentawai.
Dari segi fungsi, diperkirakan Pillbox ini berfungsi untuk mengamankan selat Pagai, yang indikasinya lubang tempat laras senapan mengarah ke seluruh penjuru selat, sedangkan pintu masuk mengarah ke daratan. salah satu penanda pillbok jepang ini sebagai pertahanan agar kapal-kapal musuh tidak merapat di kepulauan mentawai ditemukannya pilbok Jepang yang sudah mulai terkikis oleh abrasi pantai di dusun pasibuat, Muara Taikako Sikakap. secara umum, pillbok jepang yang ada di Sumatera barat termasuk di mentawai Teknik pengerjaan Pillbox diperkirakan dengan sistem mengecor lapis demi lapis yang terlihat dari garis-garis lapisan pada sisi luar Pillbox. Finishing permukaan Pillbox dibiarkan begitu saja, tanpa penghalusan maupun pemelesteran kembali.
Jepang memberikan perhatian pada daerah-daerah pantai maupun kepulauan di Samudera Hindia bukan tidak ada alasan karena setelah keterlibatan jepang dalam perang dunia dengan diserangnya pangkalan militer Amerika di Pearl Harbor, Hawaii artinya mereka siap berperang juga dengan negara Persemakmuran Inggris (Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Persatuan Afrika Selatan), Republik Sosialis Uni Soviet, yang dikenal sebagai "Big Three", memegang kepemimpinan dari kekuatan pasukan Sekutu.lihat di Kompas.com dengan judul "Serangan Pearl Harbor, Peristiwa yang Mengubah Sejarah Dunia.",  Akhirnya dapat ditarik benang merah bahwa sudah saatnya mentawai dijadikan sebagai daerah penting dalam proses pelestarian cagar budaya khususnya di Sumatera Barat.