BREAKING NEWS

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Mitigasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitigasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2016

Museum Pantai Barat Sumatera

Pantai Barat Sumatera salah satu kawasan perdagangan penting sejak zaman kuno. Pantai barat sumatera identik dengan jalur pelayaran dan perdadangan mulai dari zaman pra sejarah, hindu – budha, masa islam dan Kolonial Belanda. Beragam interaksi budaya  menjadikan pantai barat sumatera daerah yang kaya. Secara umum daerah-daerah yang masuk dalam kawasan pantai di kawasan Gouvernament Sumatra`s Westkust terbagi atas tiga kawasan utama. Kawasan pertama adalah kota-kota yang terdapat disekitar Kota Padang atau Padangsche Benedenlanden, antara lain Padang, Pariaman, Tiku dan Air Bangis. Kawasan kedua adalah kota-kota di kawasan utara (Noordelijke Havens) antara lain Natal, Tapanuli, Barus dan Singkel. Kawasan ketiga adalah kota-kota pantai yang terletak dibagian Selatan Kota Padang (Zuidelijke Havens) yang mencakup kawasan Bandar X hingga Indrapura (Gusti Asnan, 2007:151)
Mulai Pemerintah Kolonial Belanda kokoh di Sumatera, beiringan juga dengan perkembangan pesat kawasan Pantai barat Sumatera walaupun sejak zaman pra sejarah daerah ini sudah maju. Diakui Belanda juga berperan penting dalam mengembangkan kawanan ini menjadi pelabuhan penting di Sumatera. Kemajuan pantai barat sumtera didukung dengan adanya pelabuhan teluk bayur yang secara perdagangan meatikan pelabuah yang ada disepanjang pantai barat sumatera salah satunya Bandar X di pesisir selatan.
Teluk bayur menjadi tonggak kemajuan pantai barat sumatera masa Hindia Belanda. Kemajuan ini didukung dengan adanya kereta api sebagai sarana transportasi darat untuk mengeruk hasil sumber daya alam di pedalaman Sumatera. Pada awalnya, rencana pembangunan rel kereta api di Sumbar digunakan untuk distribusi kopi dari daerah pedalaman (Bukittinggi, Payakumbuh, Tanah Datar, Pasaman) ke Pusat perdagangan di Kota Padang. Ide ini muncul saat pemerintahan kolonial Belanda sudah mulai kokoh di Sumbar. Hal ini terlihat setelah penanda tangani Plakat Panjang tahun 1833. Teluk Bayur, kereta Api dan batu bara adalah tiga serangkai pemberi sumbangsi kemajuan pantai barat Sumatera.(Aulia Rahman, 2014 : 33).
Tiupan angin kencang yang diikuti dengan alunan gelombang besar yang merupakan bagian dari kenyataan sehari-hari alam Samudera Hindia, seakan akan menjadi salah satu alasan pembenar untuk menyatakan bahwa wilayah pantai barat Pulau Sumatera, termasuk gugusan pulau yang ada di dalamnya, bukan tempat yang ideal bagi berlangsungnya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Berbagai kesulitan yang harus dihadapi ketika orang ingin mencapai wilayah ini, sering dijadikan dasar berpikir untuk menyatakan bahwa wilayah ini bukan tempat yang perlu didatangi dan dikembangkan sebagai salah satu pusat dalam aktivitas manusia. Cerita tentang berbagai kesulitan dan musibah yang dihadapi oleh keluarga Thomas Stamford Raffles ketika mereka tinggal di Bengkulu, semakin memperkuat citra keganasan daerah pantai barat ini, sehingga peran kesejarahannya dalam sejarah Indonesia seakan-akan dapat diabaikan begitu saja.(Bambang Purwanto, Makalah 2013 : 4)
Pentingya kawasan pantai barat sumatera di masa lalu sekarang ini hendak perlu ada sebuah sarana pembelajaran untuk menceritakan kemegahan pantai barat sumatera. Salah satunya dengan museum pantai barat sumatera .
Kenapa perlu Museum?
Sejarah panjang pantai barat Sumatera perlu didokumentasikan dan direkontruksi kembali, kontruksi 

semacam salah satu media penyampainya adalah museum. Tidak sedikit dari peninggalan dari pantai barat Sumatera yang tersapu oleh ombak, tergilas oleh pertarungan politik masa lalu dan tertuang dalam sejarah. Berbagai pergulatan politik, interaksi budaya, dan juga salah satu titik awal masuknya agama Islam ke pedalaman Sumatera.
Memang sekarang, angin pembangunan diarahkan ke pantai timur Sumatera tapi sebagai persiapan dari sirklus sejarah, pantai barat Sumatera nantinya akan mendapatkan kembali waktu jaya sebagaimana dulu. sangat banyak yang akan digali, dinformasikan dari pantai barat sumatera diantaranya akulturasi dan asimilasi kebudayaan, kearifan lokal. 




Minggu, 12 Juni 2016

Ukiran Pengaruh Kolonial Belanda

Singkarak, mendengar nama itu berbagai gambaran yang ada dalam ingatan orang. Bagi yang menyukai pemandangan mungkin saja keindahan danau lengkap dengan atribut permainan air. Bagi yang beberapa tahun ini mengikuti tour sepeda tingkat internasional tentu mengingat Tour De Singkarak. Berbeda lagi dengan pecinta kuliner tentu akan ingat dengan aneka olahan ikan Bilih. Berbagai ingatan yang mucul ketika mendengan kata Singkarak.

Selasa, 17 Mei 2016

Kembali Memaknai Surau

Surau saat ini hanya merujuk pada tempat peribadatan di Minangkabau.Namun pengertian Surau, langgar, musollah, dan masjid masih simpang siur namun ada titik temu bahwa semuanya berfungsi sebagai tempat ibadah agama Islam. Dalam khazanah masyarakat Minangkabau Surau saat ini telah terjadi penyempitan makna Surau hanya dipahami sebagai tempat ibadah. langgar dan musollah sebenarnya yang diartikan hanya sebagai tempat ibadah dan Surau fungsinya lebih komplit. boleh disimpulkan Surau adalah sekolah ala orang Minangkabau.
Ahli sejarawan belum sepakat tentang makna surau. Menurut  Azyumardi Azra menuliskan surau berasal dari kata Suro arinya tempat atau tempat penyembahan. Penyembahan mengarah pada peyembahan arwah nenek moyang dan dibuat di lokasi yag tinggi karena sesuai dengan system pemakaman pra sejarah bahwa tempat arwah nenek moyang berasa di tempat yang tinggi sehingg surau juga diibuat pada tempat yang tinggi. Setelah Islam masuk surau mulai ditempatkan dekat dengan pemukiman penduduk. Pada tahun 1356 sudah ada di kawasan Bukit Gombak surau sebagai tempat belajar ilmu agama, adat dan memecahkan masalah social masa Aditywarman. (Azyumardi Azra, 1999: 117)
Menurut Kroeskamp, surau secara kelembahaan telah dimulai masa Adityawarman. Kata Saruaso memiliki akar kata Surau dan aso. Saruaro biara peribadatan anak muda tahun 1386 untuk mempelajari adat yagn sacral dan agama Budha seta tempat penyelesaian agama Budha.(Kroeskamp,1931:92). Setelajh islamn masuk fungsi surau tidak berubah sama sekali namun pola pengajarannya yang berbesa yaitu agama Islam. Maka tidak jarang kita temui pola arsitektur surau masa lalu bergonjong atau bentuk punden berundak-undak seperti saat sekarang salah satu surau yang berpunden undak-undak di Surau Tuo Siguntur di Darmasraya, Surau Tuangku Pamansiangan, Surau matur hilai Pincuran gadang di Agam, Suarau Tuo di Lima Kaum tanah Datar, batang jamik dan pakandang di Pariaman.
Surau menurut para peneliti di luar Minangkabau banyak yang mengira bahwa Surau dan mesjid itu sama. Dalam kamus bahasa Indonesia surau berasal dari bahasa arab atinya tempat sujud namau dala penerpannya di minangkabau, anggapan itu sama sekali belum sepenuhnya benar dan pada prakteknya surau lebih dari sekedar tempat sujud, karena Surau di Minangkabau merupakan suatu tempat pendidik anak kemanakan di dalam suku atau kaum itu. dalam setiap suku biasanya memiliki satu Surau.
Pada masa Belanda, ketika bermunculan pendidiakn ala barat yang diterapakn oleh Beladna di Minangkabau, Surau juga menjadi embrio pendidikan pesantren dengan system asrama. Hal bentuk dari pengembangan surau sebagai sarana pendidikan. Pada akhirnya surau pendidkan surau dapat besaing dengan pendidikan barat.
Fungsi utama Surau adalah tempat berhimpunnya satu kaum atau suku di sana. Sangat jelas kita lihat ketika suatu kaum malewakan gala atau mengangkat penghulu. Untuk melewakan gala suatu kaum mereka memperhelatkan di suatu tempat yang di sebut Surau. Surau di Minangkabau selain sebagai tempat ibadah juga berfungsi sebagai tempat keputusan tertinggi dalam kaum. Memang keputusan itu melalui musyawarah juga, karena sistim Minangkabau sangat demokrasi. Keputusan adat atau kebijakan kaum diputuskan di Surau.
Surau Gadang (besar) itu bisa dipahami sebagai Mesjid dan dulunya hanya ada 1 dalam sebuah Nagari serta berfungsi juga sebagai sholat jum’at. tempat berunding masalah nagarimapun sebagai tempat persidangan. Falsafah Babalai bamusajik, dalam syarat berdiri sebuah nagari di Minangkabau itu mengacu pada Surau Gadang.
Surau kaum adalah tempat dimana fungsi Surau sebagai tempat belajar agama, belajar alur pasambahan, atau seni berunding, juga di halamannya pada malam hari digunakan untuk latihan silat, serta tempat tinggal bagi anak laki-laki yang sudah akil baliq. Surau kaum inilah pendidikan dasar seorang anak Minangkabau dimulai. kita banyak mengenal tokoh-tokoh asal Minangkabau yang sukses pendidikan dasarnya adalah pendidikan Surau terkhusus Surau kaum. Ketika pergi merantau yang pertama dicari dulu adalah Surau karena dulu setiap nagari mempunyai Surau dagang.
Arsitektur Surau di Minangkabau
Sedangkan Surau dagang atau Surau anak rantau. Surau ini diperuntukkan untuk perantau, pengembara atau orang yang datang menuntut ilmu suatu nagari, baik itu ilmu agama, adat maupun silat ataupun pegadang mingguan yang berdagang di pasar nagari atau balai. Surau dagang ini masih bisa ditemui sekarang ini disekirar komplek Surau syekh Buehanuddin di Ula'an, Pariaman. disana daerah tua atau lebih mudahnya setiap kabupaten yang ada di Umbar dan daerah yang pernah menjadi wilayah Minangkabau iitu ada suran dagang masing-masing daerah. Biasanya Surau Dagang letaknya tidak jauh dari Surau Gadang.
Selain itu, ciri khas bangunan Surau tidak mengacu pada bangunan mesjid yang dilhat sekarang ini. Jarang sekali Surau zaman dahulu memiliki kubah. Malah tren Surau zaman dulu lebih mencontoh seni arsitektur rumah gadang yaitu bergonjong. Dapat dilihat dari seperti Suarau Lubuak Bauk di batipuah Baruah di Tanah datar, Surau Syekh Burhanuddin di Ula’an di Pariaman atau Surau kayu jao di Solok. Tren bangunan yang ada masa itu adalah bangunan bergonjong dan berpanggung. Kompleksitas bagian dan fungsi Surau juga tergambar seni arsitektur bangunannya. (Rahman Van Supatra)

Senin, 21 Maret 2016

Potensi Arkeologi Bawah Air

Jika di Yunani kuno penguasa laut adalah Poseidon, rasanya tidak begitu jauh dengan penguasa tinggalan sejarah bawah air di teliti oleh arkeolog bawah air. Jauh sebelum pesawat terbang menguasai udara, laut, sungai maupun lalu lintas mengandalkan air sebagai sarana transportasi. Transportasi mengandalkan air sebagai jalur. Pentingnya air zaman pra pesawat terbang tentu meninggalkan jejak sejarah. Terutama bangkai kapal tenggelam maupun tinggalan lainnya yang ada di dalam air.

Rabu, 16 Maret 2016

Arkeologi Pemukiman

Pemukiman adalah sebuah sistem yang didalamnya terdapat variabel-variabel yang saling terkait. Variabel yang dimaksud diantaranya adalah lingkungan, institusi, teknologi, dan interaksi sosial. Setiap variabel tersusun atas sub-subsistem sehingga membentuk sebuah kebudayaan yang kompleks. Dalam mempelajari pola pemukiman dapat dipastikan akan menemukan gambaran tentang organisasi sosial, politik, ekonomi, dan kepercayaan. Intepretasi akurat pada lay out, ukuran luas, gaya dan tipe bangunan secara tidak langsung dapat mengidentifikasikan hubungan aspek-aspek yang tekait tersebut. Penelitian lay out dan ukuran bangunan akan meperoleh gambaran tentang susunan keluarga dan perkiraan jumlah anggota keluarga.

Selasa, 16 Februari 2016

Hasil Survei Pekonina, Bank Belanda

Pekonina merupakan daerah daratan tinggi yang terletak di Kabupaten Solok Selatan kilometer 16 Jalur Muara Labuh Padang Aro. Pekonina merupakan sebuah nama yang dihadiahkan oleh Koloni Belanda semasa menjajah Indonesia. Peko berarti “Pucuk teh terbaik” dan Nina berarti “Madam NINA, istri dari seorang Tuan Besar Belanda yang memimpin Pabrik teh terbesar yang berada di Pekonina. Warga Negara Asing yang pertama kali masuk ke Pekonina adalah Jerman. Jerman kemudian membuka lahan perkebunan berupa kebun teh. Jepang masuk sekitar tahun 1927 sampai dengan 1939. Jerman membuka perkebunan teh hingga mencapai puluhan hektar. Lamase merupakan maskapai yanng dibangun oleh jerman sebagai negara pertama yang menduduki Pekonina.

Senin, 15 Februari 2016

Rangkiang Budaya (RAYA)

Rangkiang Budaya (RAYA) adalah komunitas yang memberikan perhatian pada Sumberdaya Budaya yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Sumberdaya Budaya berupa Cagar Budaya. Rangkiang Budaya adalah organisasi yang bergerak di bidang Sejarah maupun Peninggalan Arkeologi. Pada awalnya Rangkiang Budaya disebut dengan Forum Surau Tuo, karena ada lembaga swadaya masyarakat yang telah menggunakan nama tersebut sehingga terjadi perubahan nama organisasi.