BREAKING NEWS

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Penyelamatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyelamatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Agustus 2017

Pulau Cingkuk dan Madam Van Kempen

Sebelum Belanda datang, Pesisir selatan sudah ada bandar-bandar dagang ada di setiap daerah. Masyarakat berlomba-lomba menarik pedagang agar singgah ke Bandar mereka. Bandar dagang ini disebut pelabuhan sepuluh Bandar atau Banda X. Aie Haji, Punggasan, Sungai Tunu, Palangai, Lakitan, Kambang, Ampiang Parak, Surantih, Batang Kapeh, Bungo Pasang ( daerah Salido). Namun, setelah bangsa Belanda menguasai Pulai Cingkuk, maka pulai ini mulai ramai.

Kamis, 19 Januari 2017

Rumah Gadang Koto Rajo, Situjuah

Rumah gadang sambilang ruang, salanja kudo balari, sapakiak budak maimbau, sajariah kubin malayang, gonjongnyo rabuang mambasuik, antingnya – antiang nyo di samba alang., inilah ungkapan kebesaran dan kemegahan rumah gadang. Kemegahan rumah gadang menjadi simbol dari kebesaran dan kebanggaan mulai dari seni arsitektur, fungsi, makna. Rumah gadang tuangan alam pikiran manusia – manusia minangkabau yang menganut falsafah hidup alam takambang jadi guru. Berlaku juga untuk rumah gadang dengan halaman yang luas, seni arsitektur, ukiran, fungsi, tata aturan pergaulan dalam rumah, fungsi bangunan, nilai – nilai moral yang terdapat dalam setiap sendi bangunan dan dilengkapi jejeran rangkiang sebagai lambang dari kemakmuran. Tapi apa jadinya rumah gadang ada di tengah hutan belantara.

Rabu, 06 Juli 2016

Museum Pantai Barat Sumatera

Pantai Barat Sumatera salah satu kawasan perdagangan penting sejak zaman kuno. Pantai barat sumatera identik dengan jalur pelayaran dan perdadangan mulai dari zaman pra sejarah, hindu – budha, masa islam dan Kolonial Belanda. Beragam interaksi budaya  menjadikan pantai barat sumatera daerah yang kaya. Secara umum daerah-daerah yang masuk dalam kawasan pantai di kawasan Gouvernament Sumatra`s Westkust terbagi atas tiga kawasan utama. Kawasan pertama adalah kota-kota yang terdapat disekitar Kota Padang atau Padangsche Benedenlanden, antara lain Padang, Pariaman, Tiku dan Air Bangis. Kawasan kedua adalah kota-kota di kawasan utara (Noordelijke Havens) antara lain Natal, Tapanuli, Barus dan Singkel. Kawasan ketiga adalah kota-kota pantai yang terletak dibagian Selatan Kota Padang (Zuidelijke Havens) yang mencakup kawasan Bandar X hingga Indrapura (Gusti Asnan, 2007:151)
Mulai Pemerintah Kolonial Belanda kokoh di Sumatera, beiringan juga dengan perkembangan pesat kawasan Pantai barat Sumatera walaupun sejak zaman pra sejarah daerah ini sudah maju. Diakui Belanda juga berperan penting dalam mengembangkan kawanan ini menjadi pelabuhan penting di Sumatera. Kemajuan pantai barat sumtera didukung dengan adanya pelabuhan teluk bayur yang secara perdagangan meatikan pelabuah yang ada disepanjang pantai barat sumatera salah satunya Bandar X di pesisir selatan.
Teluk bayur menjadi tonggak kemajuan pantai barat sumatera masa Hindia Belanda. Kemajuan ini didukung dengan adanya kereta api sebagai sarana transportasi darat untuk mengeruk hasil sumber daya alam di pedalaman Sumatera. Pada awalnya, rencana pembangunan rel kereta api di Sumbar digunakan untuk distribusi kopi dari daerah pedalaman (Bukittinggi, Payakumbuh, Tanah Datar, Pasaman) ke Pusat perdagangan di Kota Padang. Ide ini muncul saat pemerintahan kolonial Belanda sudah mulai kokoh di Sumbar. Hal ini terlihat setelah penanda tangani Plakat Panjang tahun 1833. Teluk Bayur, kereta Api dan batu bara adalah tiga serangkai pemberi sumbangsi kemajuan pantai barat Sumatera.(Aulia Rahman, 2014 : 33).
Tiupan angin kencang yang diikuti dengan alunan gelombang besar yang merupakan bagian dari kenyataan sehari-hari alam Samudera Hindia, seakan akan menjadi salah satu alasan pembenar untuk menyatakan bahwa wilayah pantai barat Pulau Sumatera, termasuk gugusan pulau yang ada di dalamnya, bukan tempat yang ideal bagi berlangsungnya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Berbagai kesulitan yang harus dihadapi ketika orang ingin mencapai wilayah ini, sering dijadikan dasar berpikir untuk menyatakan bahwa wilayah ini bukan tempat yang perlu didatangi dan dikembangkan sebagai salah satu pusat dalam aktivitas manusia. Cerita tentang berbagai kesulitan dan musibah yang dihadapi oleh keluarga Thomas Stamford Raffles ketika mereka tinggal di Bengkulu, semakin memperkuat citra keganasan daerah pantai barat ini, sehingga peran kesejarahannya dalam sejarah Indonesia seakan-akan dapat diabaikan begitu saja.(Bambang Purwanto, Makalah 2013 : 4)
Pentingya kawasan pantai barat sumatera di masa lalu sekarang ini hendak perlu ada sebuah sarana pembelajaran untuk menceritakan kemegahan pantai barat sumatera. Salah satunya dengan museum pantai barat sumatera .
Kenapa perlu Museum?
Sejarah panjang pantai barat Sumatera perlu didokumentasikan dan direkontruksi kembali, kontruksi 

semacam salah satu media penyampainya adalah museum. Tidak sedikit dari peninggalan dari pantai barat Sumatera yang tersapu oleh ombak, tergilas oleh pertarungan politik masa lalu dan tertuang dalam sejarah. Berbagai pergulatan politik, interaksi budaya, dan juga salah satu titik awal masuknya agama Islam ke pedalaman Sumatera.
Memang sekarang, angin pembangunan diarahkan ke pantai timur Sumatera tapi sebagai persiapan dari sirklus sejarah, pantai barat Sumatera nantinya akan mendapatkan kembali waktu jaya sebagaimana dulu. sangat banyak yang akan digali, dinformasikan dari pantai barat sumatera diantaranya akulturasi dan asimilasi kebudayaan, kearifan lokal. 




Kamis, 23 Juni 2016

Danau Singkarak Bekas Kerajaan?

Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar, Agustus 1970 mengungkap fakta tentang keberadaaan prasasti di Danau Singkarak. Prasasti ini diduga mengungkap peninggalan sejarah Minangkabau. Setelah informasi tahun 1970 tersebut belum ada penelitian lebih lanjut untuk mengungkap dan menggali informasi lebih lanjut dari tentang prasasti tersebut. Keberadaan prasasti in dilaporkan oleh Tim Research Pengumpulan Data-data Sejarah Minangkabau yang diketuai Drs. Hasan Basri. Menurut keterangan penangkap ikan, bagian tangga yang meninggi itu hanya beberapa meter di bawah air permukaan danau, dan di kiri-kanan batu bersurat tersebut terdapat gua-gua," demikian isi laporan tim yang dikutip dari makalahnya.

Minggu, 12 Juni 2016

Ukiran Pengaruh Kolonial Belanda

Singkarak, mendengar nama itu berbagai gambaran yang ada dalam ingatan orang. Bagi yang menyukai pemandangan mungkin saja keindahan danau lengkap dengan atribut permainan air. Bagi yang beberapa tahun ini mengikuti tour sepeda tingkat internasional tentu mengingat Tour De Singkarak. Berbeda lagi dengan pecinta kuliner tentu akan ingat dengan aneka olahan ikan Bilih. Berbagai ingatan yang mucul ketika mendengan kata Singkarak.

Kamis, 24 Maret 2016

Apa Itu Arkeologi Publik?

Ketika istilah “arkeologi publik” dimunculkan oleh McGimsey (1972) pada awal tahun 1970-an, pengertiannya lebih ditekankan pada usaha-usaha para arkeolog untuk merekam dan melindungi tinggalan-tinggalan arkeologis yang terancam oleh proyek-proyek pembangunan, atas nama dan bersama dukungan publik (McGimsey 1872: 5-6; lihat juga Merriman 2004a: 3; Schadla-Hall 1999: 146-147). Pandangan ini masih banyak digunakan di USA, di mana arkeologi publik dikaitkan dengan manajemen sumber daya budaya (CRM) yang dijalankan untuk kepentingan publik (Cleere 1989: 4–5; Jameson 2004: 21; McDavid dan McGhee 2010: 482; McManamon 2000: 40; White dkk. 2004). Tetapi di tempat lain, istilah ini telah menerima pemaknaan baru yang beragam (Ascherson 2006, 2010; McDavid dan McGhee 2010: 482). Sebagai contoh, sebuah jurnal yang diterbitkan pada tahun 2000 yang didedikasikan untuk subjek ini, diberi judul Public Archaeology, menyusun daftar tema berikut yang mendesak untuk segera dibahas sebagai persoalan utamanya: kebijakan-kebijakan arkeologis, pendidikan dan arkeologi, politik dan arkeologi, arkeologi dan pasar barang-barang antik, etnisitas dan arkeologi, keterlibatan publik dalam arkeologi, arkeologi dan hukum, ekonomi arkeologi, serta pariwisata budaya dan arkeologi (Public Archaeology, 2000: sampul dalam)[1]
Tinggalan arkeologi selain memiliki potensi sumberdaya arkeologi, juga potensi sebagai sumberdaya budaya yang mempunyai kedudukan sama dengan sumberdaya lain sebagai salah satu modal pokok dalam pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Kusumahartono, 1995). [2]
Pada saat ini masih terdapat beberapa perbedaan dalam mendefinisikan istilah
Arkeologi Publik. Paling tidak terdapat tiga definisi yang berbeda, yaitu:


  1. Arkeologi Publik dipersamakan dengan Contract Archaeology atau Cultural Resources Management (CRM), yaitu berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya budaya (arkeologi). Cakupannya pun kemudian menjadi cukup luas, yakni mencakup segala hal yang biasa dilakukan dalam CRM, mulai dari konservasi sampai dengan masalah hukum/perundangan.
  1. Arkeologi Publik diartikan sebagai bidang kajian yang membahas mengenai hal yang berkaiatan dengan bagaimana mempresentasikan hasil penelitian arkeologi kepada masyarakat. Cakupan kajiannya menjadi lebih sempit dibandingkan dengan yang pertama (point a), karena yang paling utama dikaji dalam pengertian ini adalah masalah publikasi hasil penelitian arkeologi. Yang dimaksud dengan publikasi bukan hanya berarti penerbitan saja, tetapi melingkupi publikasi dalam bentuk yang lain, misalnya display museum, poster, film, sosialisasi arkeologi, dan sebagainya.
  1. Arkeologi Publik didefinisikan sebagai bidang ilmu arkeologi yang khusus menyoroti interaksi arkeologi dengan publik atau masyarakat luas. Lnteraksi tersebut dapat terjadi dalam dua arch, balk dari arkeologi ke publik maupun dari publik ke arkeologi.[3]

Terdapat tiga pihak utama yang berperan dalam perkembangan arkeologi, terutama di Indonesia, yaitu pihak akademisi, pihak pemerintah, dan pihak publik atau masyarakat. Ketiganya mempunyai peran yang sangat menentukan bagi keberlangsungan arkeologi. Peran masyarakat semakin lama justru semakin meningkat, terutama akhirakhir ini pada saat mainstream pemikiran di luar arkeologi pun sangat kental dalam memperhatikan kepentingan masyarakat dalam segala hal. Lebih-Iebih dalam arkeologi dikaitkan dengan "kepemilikan" benda cagar budaya atau peninggalan arkeologis yang merupakan milik masyarakat, sehingga masyarakatlah yang dipandang paling berhak atas miliknya tersebut. Dalam paradigma pelestarian sumberdaya arkeologis pun terdapat pergeseran, dari yang dulunya hanya semata-mata memperhatikan pelestarian fisik saja bergeser pada kepedulian terhadap kebermaknaan sosial (social significance) dari tinggalan arkeologis itu sendiri. Dengan demikian keberhasilan sebuah proses pelestarian BCB ditentukan oleh apakah pelestarian tersebut mempunyai kebermaknaan sosial bagi masyarakat setempat. [4]
Upaya pengelolaan  warisan budaya di situs arkeologi pada masa sekarang, harus memperhatikan makna sosial (social significance) bagi masyarakat sekitarnya. Konsekuensi pemahaman tersebut, menuntut adanya suatu perubahan kebijakan (advokasi), mengalihposisikan penduduk di sekitar situs yang semula sebagai objek menjadi subjek.[5]



[2] Yadi Mulyadi, Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Sulaa Di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, Naskah Publikasi (Yogyakarta : Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, 2009) hlm 1
[3] Universitas Gadjah Mada 1 POKOK BAHASAN: DASAR-DASAR ARKEOLOGI PUBLIK
[4] ibid
[5] PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN SITUS ARKEOLOGI Oleh : Bambang Sulistyanto Pusat  Arkeologi Nasional  http://setjen.kemdikbud.go.id/arkenas/contents/category/article/arkeologi-publik

Senin, 21 Maret 2016

Potensi Arkeologi Bawah Air

Jika di Yunani kuno penguasa laut adalah Poseidon, rasanya tidak begitu jauh dengan penguasa tinggalan sejarah bawah air di teliti oleh arkeolog bawah air. Jauh sebelum pesawat terbang menguasai udara, laut, sungai maupun lalu lintas mengandalkan air sebagai sarana transportasi. Transportasi mengandalkan air sebagai jalur. Pentingnya air zaman pra pesawat terbang tentu meninggalkan jejak sejarah. Terutama bangkai kapal tenggelam maupun tinggalan lainnya yang ada di dalam air.

Sabtu, 12 Maret 2016

Arkeologi Bawah Air Melacak Kuno Kapal Karam


Ditemukannya lima situs kapal kuno yang karam di sekitar perairan Karimun jawa, Jawa Tengah, bukanlah perkara mudah. Maklum, barang yang ditemukan relatif kecil jika dibandingkan luas dan dalamnya lautan. Selain itu, teknologi yang digunakan pun masih sangat terbatas. Masih ada ratusan kapal kuno lainnya yang diperkirakan karam di  sekitar perairan Indonesia.

Senin, 15 Februari 2016

Rangkiang Budaya (RAYA)

Rangkiang Budaya (RAYA) adalah komunitas yang memberikan perhatian pada Sumberdaya Budaya yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Sumberdaya Budaya berupa Cagar Budaya. Rangkiang Budaya adalah organisasi yang bergerak di bidang Sejarah maupun Peninggalan Arkeologi. Pada awalnya Rangkiang Budaya disebut dengan Forum Surau Tuo, karena ada lembaga swadaya masyarakat yang telah menggunakan nama tersebut sehingga terjadi perubahan nama organisasi.