BREAKING NEWS

Cari Blog Ini

Rabu, 19 Agustus 2020

SERIAL BENTENG : Fort Van der Capellen


Batusangkar, Kota ini menjadi salah satu kota penting bagi Belanda, Fort Vander Capellen  mempunyai peran ganda yaitu menjadi  ibu kota Afdelling dan ibu kota District. Sebagai ibu kota Afdeling  Tanah Datar Vander Capellen menjadi pusat pemerintahan sipil tempat pemerintahan kolonial mengatur birokrasi pemerintahan pribumi sekaligus mengawasi pelaksanaan sistem tanam paksa kopi. Sebagai kota yang penting bagi kolonial, maka didirkanlah benteng yang kuat dan kokoh untuk pertahanan. Pendirian benteng ini turut serta didirikannya bangunan bangunan pendukung. Berikut ini beberapa bangunan yang dibuat pada masa kolonial Belanda.
Kota Batusangkar pada Masa Kolonial Belanda dikenal dengan Van Der Capellen.  Penamaan Kota Batusangkar dengan nama Benteng Van Der Capellen dari nama Mr. Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen penguasa Hindia Belanda pertama yang memerintah di Hindia setelah dikuasai oleh Kerajaan Inggris selama beberapa tahun. Van der Capellen, memerintah antara tanggal 19 Agustus 1816 – 1 Januari 1826. Ia merupakan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-41.



Benteng van der Capellen dibangun Belanda di Batusangkar pada tahun 1822. Benteng didirikan di atas dataran yang cukup tinggi dan dibangun atas perintah Kolonel Raff. Awalnya benteng hanya berupa kumpulan bambu dan kayu yang di dalamnya ditegakkan bangsal-bangsal yang juga dari bambu. Kemudian di dalam benteng juga dibangun tangsi tentara dan gudang perbekalan. Belanda kemudian membangun kompleks bangunan yang cukup kokoh di dalam benteng. Kompleks bangunan mulai didirikan di dalam benteng.

Benteng Van der Capellen merupakan salah satu tinggalan benda cagar budaya tidak bergerak di Kabupaten Tanah Datar. Situs dan bangunan benteng tersebut memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Keberadaan benteng Van der Capellen tidak dapat dilepaskan dengan peristiwa peperangan antara Kaum Adat melawan Kaum Agama yang terjadi pada sekitar tahun 1821 karena adanya pertentangan. Kaum Agama yang dipelopori oleh tiga orang Haji yang baru kembali dari Mekah ingin melakukan pemurnian ajaran Agama Islam. Hal ini karena pada masyarakat Minangkabau di Tanah Datar telah badak banyak melakukan praktek budaya sehari-hari yang sangat bertentangan dengan ajaran Agama Islam, misalnya adu ayam, berjudi, minuman keras, dan sebagainya. Namun gerakan pemurnian ajaran Agama Islam ternyata tidak berjalan mulus dan memperoleh tantangan dari Kaum Adat. Dalam kondisi demikian, pertentangan antara Kaum Adat dan Kaum Agama semakin meruncing dan konflik terbuka di antara keduanya tidak dapat dihindarkan lagi.
Konflik terbuka yang berupa peperangan fisik antara Kaum Adat dan Kaum Agama akhirnya dimenangkan oleh Kaum Agama. Para pemuka Kaum Adat melihat kenyataan demikian tidak tinggal dia. Kaum Adat kemudian minta bantuan Belanda yang pada waktu itu sudah berkedudukan di Padang. Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kolonel Raff masuk ke Tanah Datar untuk memerangi Kaum Agama atas permintaan Kaum Adat.
Sesampai di Batusangkar, pasukan Belanda dipusatkan di suatu tempat yang memiliki ketinggian paling tinggi di daerah pusat kota, lebih kurang 500 meter dari pusat kota. Pada tempat ketinggian inilah pasukan Belanda kemudian membangun sebuah bangunan benteng yang permanen. Bangunan benteng pertahanan yang dibangun pada tahun 1822 berupa bangunan gedung yang memiliki ketebalan dinding ± 75 cm dan beratap genteng. Pada sekeliling bangunan ± 4 meter dari dinding bangunan diberi parit dan tanggul pertahanan melingkar mengelilingi bangunan. Bangunan inilah yang kemudian diberi nama Benteng Van der Capellen, sesuai dengan nama Gubernur Jenderal Belanda pada waktu itu.
Dengan adanya benteng pertahanan yang permanen dan strategis maka secara militer dan politis memudahkan Belanda untuk menguasai wilayah sekitar Batusangkar. Kesempatan demikian akhirnya bukan hanya bertujuan untuk memadamkan gerakan Kaum Agama, tetapi sekaligus untuk menguasai secara politis kawasan Tanah Datar dan seki-tarnya. Konflik terbuka yang semula hanya merupakan konflik antara Kaum Adat dan Kaum Agama akhirnya berkembang menjadi Operasi Militer Belanda. Kenyataan demi-kian akhirnya menyadarkan Kaum adat yang semula sengaja “mengundang” pihak Belanda. Pada akhirnya Kaum Adat dan Kaum Agama bersatu melawan Belanda dan kemudian pecah Perang Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.
Keberadaan Belanda di Batusangkar sampai pada saat meletusnya Perang Dunia II. Setelah selesai Perang Dunia II dengan kekalahan Belanda dari Jepang akhirnya Belanda meninggalkan Batusangkar. Benteng Van der Capellen kemudian dikuasai oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) dari tahun 1943 – 1945. Setelah itu Benteng Van der Capellen dikuasai oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sampai tahun 1947. Pada waktu Agresi Belanda II, Benteng Van der Capellen kembali dikuasai Belanda lagi selama dua tahun, berlangsung pada tahun 1948 – 1950.
Setelah Belanda meninggalkan Batusangkar, Benteng Van der Capellen kemudian dimanfaatkan oleh PTPG yang merupakan cikal bakal IKIP Negeri Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) untuk proses belajar-mengajar yang saat itu dresmikan oleh Prof. M. Yamin, S.H. Pemakaian bangunan benteng untuk PTPG berlangsung sampai tahun 1955.  Pada tahun itu pula PTPG dipindah ke Bukit Gombak. Benteng Van der Capellen kemudian dijadikan sebagai markas Angkatan Perang Republik Indonesia.
Pada saat meletus peristiwa PRRI tahun 1957, Benteng Van der Capellen dikuasai oleh Batalion 439 Diponegoro yang kemudian diserahkan kepada Polri pada tanggal 25 Mei 1960. Oleh Polri kemudian ditetapkan sebagai markas Komando Resort Kepolisian (Polres) Tanah Datar dan berlanjut hingga tahun 2000. Sejak tahun 2001, Benteng Van der Capellen dikosongkan karena Polres Tanah Datar telah pindah ke bangunan kantor yang baru yang berada di Pagarruyung, sekitar 500 meter di sebelah utara Kantor Suaka PSP Sumbar dan Riau.
Bagian atap yang semula berupa atap genteng diganti dengan atap seng pada tahun 1974. Bangunan ST yang ada di dalam lingkungan benteng dibongkar dan dibangun bangunan Kantor Satlantas Polres Tanah Datar yag sampai sekarang masih dipakai.
Pada tahun 1984 dilakukan penambahan ruangan untuk Serse dan dibangun pula bangunan TK Pertiwi. Parit yang masih ada di sebelah kanan dan kiri bangunan benteng ditimbun dan diratakan pada tahun 1986. Selain itu, ruangan sel tahanan yang semula terdiri dari 4 ruangan, dibongkar satu sehingga tinggal menjadi 3 ruangan. Perubahan bangunan terakhir kalinya terjadi pada tahun 1988, yaitu berupa penambahan bangunan kantin Bhayangkari dan bangunan untuk gudang.
Kondisi Lingkungan Situs
Situs benteng Van der Capellen berada pada sudut timurlaut kawasan perkotaan Batusangkar. Keberadaannya pada lokasi yang relatif lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Luas situs benteng Van der Capellen jika dihitung berdasarkan batas kenampakan geografis berupa batas ketingggian kontur  paling atas  0,5 ha. Jalan masuk ke lokasi situs dari arah barat. Bangunan benteng Van der Capellen menghadap ke utara dan menempati sisi selatan lahan situs. Pada sisi utara sudut baratlaut terdapat bangunan baru yang sampai sekarang masih berfungsi sebagai Kantor Satlantas Kabupaten Tanah Datar dan pada sudut timurlaut terdapat bangunan Kantor Kwartir Cabang Pramuka Kabupaten Tanah Datar. Pada sisi sebelah timur bangunan Kantor Kwartir Cabang Pramuka terdapat bangunan menara tower Telkom yang didirikan pada tahun pertengahan tahun 2001.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan di lapangan, benteng Van der Capellen yang dibangun pada tahun 1822 sampai saat sekarang sudah mengalami berbagai perubahan bangunan dan lingkungan. Parit dan tanggul keliling yang berada di depan bangunan ditimbun dan didatarkan untuk halaman pada tahun 1961. Bangunan pos penjagaan ditambahkan di bagian depan bangunan dan menempel di dinding bangunan induk. Pada tahun 1969 mengalami perubahan lagi dengan penambahan bangunan ruang penjagaan di halaman sebelah kanan. Parit dan tanggul di bagian belakang ditimbun dan diratakan untuk bangunan asrama.
Pada dataran kontur kedua dari atas terdapat beberapa bangunan perkantoran, Asrama Kodim,dan bangunan perumahan penduduk. Sebelah utara terdapat bangunan Kantor Perkebunan, Pengadilan Negeri, PPM, dan Legiun Veteran RI, dan tiga buah bangunan perumahan penduduk. Sebelah timur terdapat bangunan Kantor Kelurahan dan bangunan Asrama Kartika. Sebelah selatan terdapat bangunan Kodim Tanah Datar dan bangunan Asrama Kartika. Sebelah barat terdapat bangunan Sekolah TK dan Kantor Dinas LLAJR Tanah Datar.
Riwayat Pelestarian
Bangunan benteng Van der Capllen pernah diperbaiki oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sumatera Barat pada tahun 1992. Perbaikan yang pernah dilakukan meliputi :
  • penggantian tiang-tiang beranda bangunan II dan III
  • penggantian balok penyangga (blandar) atap beranda
  • perbaikan daun jendela bangunan II dan III
  • perbaikan dinding tembok bangunan II dan III.
  • Pembersihan lingkungan situs terkait dengan pemeliharaan terhadap bangunan atau situs. Sehubungan dengan hal tersebut, BP3 Batusangkar mengadakan pembersihan situs terhadap lingkungan Benteng Van der Capellen di Kota Batusangkar yang dilakukan pada tanggal 22 s.d. 29 Mei 2006
  • pemugaran tahun 2009

Minggu, 09 Agustus 2020

SERIAL BENTENG : (fort) De Kock

Secara administrasi benteng (fort) De Kock berada di Jalan Benteng Kelurahan Pasar Atas Kecamatan Guguk Panjang, , Kota Bukitinggi. situs ini memiliki ukuran 38 x 38 meter. Pendirian Benteng ini dilakukan pada tahun 1830 dengan maksud untuk pertahanan tentara Belanda dari perlawanan rakyat yang dimotori oleh Tuanku Imam Bonjol. Pemili-han areal yang berbukit kemung-kinan didasarkan pada letaknya yang paling tinggi dibandingkan daerah-daerah sekitarnya. Benteng ini juga merupakan tanda awal dari pertumbuhan daerah ini menjadi kota. Di lokasi ini secara fisik bangunan bentengnya sudah tidak ada lagi yang tinggal hanya berupa bangunan bak penampungan air dengan denah persegi empat.


Areal bekas benteng dibatasi oleh parit yang melingkar sedalam1 m dan lebar sekitar 3 m. Salah satu tinggalan yang masih ada hubungannya dengan bangunan benteng adalah delapan buah meriam dari besi yang dipasang di seKeliling areal bekas benteng. Salah satu meriam tersebut terdapat inskripsi yang menunjukkan angka tahun 1813 dengan panjang antara 116 – 280 cm.

Kamis, 06 Agustus 2020

Mentawai, Pertahanan Jepang Samudera Hindia


Mentawai salah satu  Kepulauan terluar di pantai barat Sumatera mulai memiliki posisi penting sejak lama. Selama bertahun-tahun sebelum perdagangan ini ada antara masyarakat adat dan daratan Sumatera, Cina dan Melayu. Pola dan perdagangan antara masyarakat di  Kepulauan Induk,  Kepulauan Sumatera telah terjalin sejak mulai abad ke 16. Catatan bangsa Eropa terkait dengan interaksi masyarakat di  Kepulauan Mentawai terdokumentasi oleh perjalanan Inggris tahun 1792. John Crisp yang mendarat di  Kepulauan-Kepulauan pada tahun 1792, telah tiba pada pertengahan 1700 di perjalanan orang Inggris yang membuat upaya gagal dan untuk mendirikan sebuah pemukiman pertanian lada di sebuah  Kepulauan selatan Pagai Selatan.
Belum ada teori yang disetujui bersama mengenai asal-usul nenek moyang orang Mentawai Hal ini disebabkan karena ada begitu banyak versi cerita yang menjelaskan hadirnya pendatang pertama di wilayah ke Kepulauanan itu.  Selain itu, tidak tersedianya sumber peninggalan arkeologis dan literatur-literatur yang memungkinkan penelusuran sejarah nenek moyang suku Mentawai menjadi semakin sulit. Juniator dalam desertasinya mencoba mengumpulkan beragam kisah tersebut. la menggolongkan kisah-kisah berdasarkan periode waktu: tahun 1842 lalu 1930. Seperti yang ditulis para ahli antara tahun 1842 hingga 1930, yang menjelaskan penduduk asli Mentawai adalah orang Melayu yang datang dari wilayah sumatera (padang).  Kisah-kisah yang diceritakan tentang hak cipta dengan laporan-laporan tertulis yang diperlihatkan pada talyun 1900-1991.Sumber-sumber ini memberikan informasi mengenai pendatang kemudian ke Kepulauanan nias yang bemama Aman Tawe (lihat Kornelius Glossanto, 2019:38) Nama ini berasal dari bahasa Nias yang berarti 'Ayah Tawe'. Seiring pergeseran waktu pembacaan Ametawe menjadi Mentawe dan pada akhirnya dikenal sebagi Mentawai.
Di samping kapal-kapal dagang (membawa orang dan barang), sejak dekade kedua abad ke-20 juga berdatangan ke Indonesia kapal-kapal penangkap ikan Jepang. Jumlahnya ada ratusan setiap tahun. Warga Jepang lainnya yang juga datang ke Indonesia adalah kaum terpelajar dan turis. Kedatangan kaum cendekia Jepang bukan untuk menuntut ilmu, tetapi untuk mempelajari berbagai aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik, serta lingkungan alam Indonesia. Kedatangan wisatawan Jepang tentu saja untuk menikmati pesona alam Nusantara. Dibandingkan dengan kelompok masyarakat kebanyakan dan zaibatsu, jumlah cendekiawan dan wisatawan yang datang relatif sedikit. Namun, walaupun sedikit, pengaruh mereka cukup besar, apalagi bila dilihat dari perspektif politis. Kaum cendekiawan khususnya, mampu mengetahui banyak potensi sosial, budaya, ekonomi, dan politik Indonesia, dan sampai taraf tertentu mampu menghadirkan pandangan tersendiri dari orang Indonesia terhadap Jepang.
Sementara penandatanganan kontrol Sumatera dan Semenanjung Malaya, Belanda kembali pada tahun 1864 untuk mengklaim ke Kepulauanan Mentawai di bawah kedaulatan Hindia Timur posisi dipertahankan sampai Perang Dunia Kedua. Dari sekian banyak perubahan yang dialami oleh orang-orang dari Siberut selama periode ini dan dekade berikutnya – terutama pembentukan koloni pemaksaan di Muara Siberut dan kedatangan dan aturan kekerasan otoritas Jepang selama periode Perang Dunia Kedua.(lihat sukumentawai.org) Namun yang pasti, pada masa perang dunia ke II,  Kepulauan Mentawai memiliki arti penting bagi Jepang sehingga sampai saat ini, peninggalan arkelogi yang dapat ditelurusi yakini peninggalan tradisional dan peninggalan Jepang berupa Pillbok atau bungker-bungker pertahanan.
Pada sisi tinggalan arkeologis di Kepulauan Mentawai berupa Bunker jepang yang tersebar di tepi pantai di pulau-pulau di Mentawai menunjukkan betapa pentingnya Mentawai pada masa Perang dunia ke II. Setidaknya yang baru ditemukan ada 13 bunker Jepang tersebar di kepulauan Mentawai. Di Muara Siberut Pillbox ini Berada di kaki bukit langsung mengarah ke laut selat Mentawai.
Selain Pesona  Kepulauan mentawai dengan keragaman hayati, kekhasan budaya yang dan tradisi yang masih berlanjut sampai sekarang. Mentawai sudah dijadikan daerah penting dalam percaturan dunia di abad ke 20.  Identifikasi bunker-bungker jepang di kepulauan mentawai ada beberapa kesimpulan bahwa antara lain kepulauan mentawai di jadikan sebagai lokasi pertahanan terdepan oleh pendudukan jepang dalam mengantisipasi serangn sekutu daru Samudera Hindia. secara arah hadap, pillbok ini juga memiliki beberapa kareakter seperti untuk pengintaian. biasanya bunker untuk pengintaian terletak di atas bukit seperti Lubang Jepang berada tepat diatas bukit pastoran meghadap ke sungai dan laut selat mentawai. bungker untuk penyerangan secara langsung seperti beberapa pillbok yang menghadap ke laut dan posisi yang diincar oleh Jepang yakni selat-selat yang berkemungkinan dilalau Kapal-kapal sekutu di Muara Siberut Pillbox ini Berada di kaki bukit langsung mengarah ke laut selat mentawai.
Dari segi fungsi, diperkirakan Pillbox ini berfungsi untuk mengamankan selat Pagai, yang indikasinya lubang tempat laras senapan mengarah ke seluruh penjuru selat, sedangkan pintu masuk mengarah ke daratan. salah satu penanda pillbok jepang ini sebagai pertahanan agar kapal-kapal musuh tidak merapat di kepulauan mentawai ditemukannya pilbok Jepang yang sudah mulai terkikis oleh abrasi pantai di dusun pasibuat, Muara Taikako Sikakap. secara umum, pillbok jepang yang ada di Sumatera barat termasuk di mentawai Teknik pengerjaan Pillbox diperkirakan dengan sistem mengecor lapis demi lapis yang terlihat dari garis-garis lapisan pada sisi luar Pillbox. Finishing permukaan Pillbox dibiarkan begitu saja, tanpa penghalusan maupun pemelesteran kembali.
Jepang memberikan perhatian pada daerah-daerah pantai maupun kepulauan di Samudera Hindia bukan tidak ada alasan karena setelah keterlibatan jepang dalam perang dunia dengan diserangnya pangkalan militer Amerika di Pearl Harbor, Hawaii artinya mereka siap berperang juga dengan negara Persemakmuran Inggris (Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Persatuan Afrika Selatan), Republik Sosialis Uni Soviet, yang dikenal sebagai "Big Three", memegang kepemimpinan dari kekuatan pasukan Sekutu.lihat di Kompas.com dengan judul "Serangan Pearl Harbor, Peristiwa yang Mengubah Sejarah Dunia.",  Akhirnya dapat ditarik benang merah bahwa sudah saatnya mentawai dijadikan sebagai daerah penting dalam proses pelestarian cagar budaya khususnya di Sumatera Barat.